BANJARMASIN– KRI dr Soeharso yang sejak Selasa (28/8) pagi sandar di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin merupakan landing platform dock (LPD) atau kapal perang amfibi.
Buatan Korea Selatan tahun 2003, dengan nama KRI Tanjung Dalpele. Kapal perang ini sejak dioperasikan untuk bantuan pada bencana tsunami Aceh tahun 2004, menjadi kapal bantu rumah sakit dan berganti nama menjadi KRI dr Soeharso.
Tak hanya itu, kapal ini juga diterjunkan saat bencana gempa yang melanda Sumatera Barat di tahun 2009. Dan yang terakhir, pada bencana gempa di Lombok, NTB.
Kapal yang memiliki panjang 122 meter ini, dilengkapi sejumlah ruangan layaknya rumah sakit. Sepert satu ruang UGD, 3 ruang bedah, 6 ruang poliklinik, 14 ruang klinik dan 2 ruang perawatan dengan kapasitas masing-masing 20 tempat tidur.
Kapal ini diperkuat 75 ABK, 65 staf medis dan mampu menampung 40 pasien rawat inap. Jika dalam keadaan darurat, KRI dr Soeharso 990 juga dapat menampung 400 pasukan dan 3.000 penumpang.
Kapal ini berbobot 11.394 ton kosong dan 16.000 ton berisi penuh. Kapal sepanjang 122 meter, lebar 22 meter dan draft 6,7 meter ini, mempunyai geladak yang panjang dan luas.
“Sehingga mampu mengoperasikan dua helikopter sekelas super puma sekaligus. Serta mengangku 24 truk,” kata Komandan KRI dr Soeharso 990, Letkol Laut (P) Joko Setiyono.
Selain itu, kapal ini dilengkapi persenjataan, dua pucuk meriam Penangkis Serangan Udara (PSU) Rheinmetall 20mm. Untuk tenaga penggeraknya adalah mesin diesel.
Dr Soeharso yang namanya diabadikan di kapal ini, merupakan seorang ahli orthopedi atau bedah tulang yang banyak berjasa selama masa perjuangan kemerdekaan. Pria kelahiran Desa Kembang, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali pada 12 Mei 1912. Tahun 1939, ia menyelesaikan studi dokternya dan mendapat gelar Indische Art. Selanjutnya bekerja di RSU Subaya sebagai asisten bedah.
Tahun 1945, bersama teman – temannya, ia mendirikan PMI cabang Surakata untuk membantu para pejuang kemerdekaan. Setahun kemudian, bersama Suroto Reksopranoto, ia terpanggil untuk membuat prothesa dan orthosa karena melihat banyaknya pemuda yang cacat akibat peperangan.
Soeharso wafat 27 Februari 1971 di Surakarta. Untuk mengenang jasanya, namanya diabadikan sebagai kapal perang KRI dr Soeharso dengan nomor lambung 990. (emy/foto: iman)