JEJANGKIT– Keluarga Abdul Sani, warga Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Kabupaten Barito Kuala (Batola), salah satu keluarga yang merasakan berkah atas pelaksanaan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38 2018, yang dilaksanakan di kampungnya.
Bagaimana tidak, melalui program bantuan bebek petelur dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalsel, yang dimaksudkan untuk mendukung kesuksesan pelaksanaan HPS, kini telur-telur itik alabio itu telah menghasilkan pundi-pundi rupiah.
“Alhamdulillah, sudah kurang lebih sepekan ini saya berhasil menjual telur sekitar 30-40 biji per hari. Jadi kalikan saja. Kalau misal harga Rp2.250/biji (telur kecil) dikalikan 40 biji, maka menghasilkan Rp90.000. Sedang kalau telur yang besar, diharga Rp2.500/biji,” jelasnya, di sela peringatan HPS, Kamis (18/10).
Menurut ayah dua anak ini, di tengah perekonomian keluarganya yang cukup sulit, tentu saja uang hasil penjualan telur-telur tersebut dirasakan sangat membantu.
“Dengan hadirnya program ini, hidup terasa lebih bergairah lagi. Saya sangat senang sekali, meskipun di sini tidak sedikit juga yang menolak bantuan serupa dengan alasan ribet mengurusnya,” sebutnya.
Menurut pria yang akrab disapa Sani ini, telur yang ia jual setiap hari itu hasil dari 50 ekor itik. Sedang 150 ekor lainnya belum menghasilkan telur. Sebab,bantuan tersebut dibagi dalam dua jenis. Satu bagian yang 50 ekor yang siap bertelur, sedang 150 ekor masih agak kecil.
Dijelaskan Sani, ada empat warga setempat yang mendapat bantuan serupa. Yakni berupa kandang berukuran 2 x 8 meter, itik petelur alabio, dan pakan selama tiga bulan.
Selain program bantuan dari BPTP Kalsel, jelas dia, warga setempat lainnya sebenarnya juga memperoleh bantuan dari Dinas Peternakan dan Perkebunan Batola.
”Ada sekitar 20 kepala keluarga (KK) yang tergabung dalam kelompok tani ‘Maju Sejahtera’ mendapat bantuan 1.000 ekor bibit itik alabio,” katanya.
Dalam membudidaya itik petelur, Sani mengaku tidak mengalami kendala berarti. Karena sebelumnya sudah pernah melakukan usaha serupa. Namun bedanya, hasil telur yang dihasilkan waktu itu lebih sedikit dibanding sekarang.
Hal tersebut, jelas dia, disebabkan pemberian pakan yang berbeda. Kalau saat ini, pakan yang diberikan bantuan lebih berkualiatas. Selain dedak padi, ada juga campuran dari bungkil sawit, dan golden.
“Selepas tiga bulan nanti, pakan bantuan sudah tidak ada lagi. Nah, di sini lah kendalanya. Sebab kita di sini punya pakan dedak padi saja, sedang lainnya tidak ada. Kondisi tersebut hampir dipastikan akan mempengaruhi jumlah telur yang dihasilkan,” tandas Sani. (rd /foto:rudy)