MARABAHAN– Meski kondisi Muhammad Syafi’i (8), pasien penderita gizi buruk belum sepenuhnya dalam kondisi baik, namun orangtuanya tetap memilih merawatnya di rumah.
“Hari ini kami akan pulang dulu ke rumah di Simpang Nungki. Nanti pada hari Sabtu mendatang baru kontrol lagi ke sini (RSUD Abdul Azis, red),” kata ayah Syafi’i, Herman, saat tengah bersiap-siap pulang dari RSUD Abdul Azis Marabahan, Rabu (24/10) sekitar pukul 11:30 Wita.
Herman tak menampik pihak rumah sakit tidak membolehkan Syafi’i dirawat di rumah. Karena tetap bersikeras, akhirnya diperbolehkan dirawat jalan. Namun dengan catatan, apabila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan maka pihak rumah sakit tidak bertanggung jawab.
“Ya mau bagaimana lagi. Posisi kami juga serba salah. Kalau terus dirawat di sini atau dirujuk ke rumah sakit Banjarmasin, maka yang menunggunya tidak ada. Sebab saya harus bekerja, sedang keluarga dekat juga tidak bisa menunggu pasien,” jelasnya.
Menurut karyawan perusahaan perkebunan sawit PT PBB ini, pihak rumah sakit juga memberikan surat rujukan ke RSUD Anshari Saleh jika bersedia membawa Syafi’i ke Banjarmasin.
Hal yang sama, menurut Herman, juga disarankan Wakil Bupati Batola, H Rahmadian Noor, saat mengunjungi Selasa siang kemarin. “Beliau menyarankan ke kami merujuk Syafi’i ke Anshari Saleh, karena biaya berobat juga sudah ditanggung BPJS,” ucap Herman.
Namun lagi-lagi karena kondisi yang tidak memungkinkan, terpaksa sementara ini Syafi’i dirawat jalan dulu sambil melihat perkembangan ke depannya.
Kondisi Syafi’i sendiri, setelah dirawat di rumah sakit selama 9 hari, diakui Herman, sudah lebih baik dari sebelumnya. “Dia tidak lagi mengeluhkan sakit di perutnya, dan bicaranya juga mulai lancar, yang hampir setiap hari terus mengajak pulang ke rumah,” katanya.
Seperti dilansir sebelumnya, Muhammad Syafi’I, warga Kecamatan Tabuganen, yang kini tinggal di Desa Simpang Nungki, Kecamatan Cerbon, kondisinya sungguh memprihatinkan.
Pergelangan kaki dan tangannya terlihat mengecil. Sedang bagian perutnya, justru membuncit. Bocah malang yang masih sekolah TK itu didiagnosa menderita gizi buruk, yang dalam dunia medis disebut kwarsiorkor, atau bahasa sederhananya kekurangan energi dan protein. (rd/foto: rudy)