BANJARMASIN, banuapost.co.id– PT Adaro Indonesia dan Yayasan Kompas Borneo Hijau, menggelar diskusi publik sekaligus kampanye lingkungan berbasis online.
Acara yang mengusung tema: “Gerakan Kaum Milenial Banjarmasin
Bersih dari Sampah” dihelat di Siring Pemko, selasa (3/12) pagi.
Diskusi publik ini dihadiri beberapa perwakilan dari
universitas di Banjarmasin, di antaranya ULM, serta perwakilan siswa SMK. Nara sumber
dalam diskusi, salah satunya Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina.
Menurut walikota, Indonesia termasuk negara penghasil
sampah plastik terbesar nomor 2 setelah China. Karena kondisi demikian, pemerintah
berkomitmen mengurangi dengan 60 juta ton sampah per tahun.
“Bahkan sejak pmerintahan SBY hingga Jokowi, persoalan
sampah ini belum juga tercapai,” ujar Ibnu Sina.
Namun demikian, lanjut walikota, secercah harapan muncul
dari Kota Banjarmasin dengan kebijakan untuk mengurangi jumlah sampah plastik.
“Kebijakan itu, dengan melarang masyarakat menggunakan
kantong plastik yang diberlakukan sejak 2016,” jelas Ibnu Sina.
Sekarang ini, sambung Ibnu Sina, sudah ada 11 kota di Indonesia yang melarang penggunaan kantong plastik,
terutama di mini market atau super market.
Sedang di Banjarmasin, menurut walikota, sedang
diupayakan pengurangan penggunaan kantong plastik di pasar tradisional. Meski
sudah disosialisasikan, ternyata masih belum memunculkan kesadaran para pedangangnya.
Seperti diketahui, awalnya plastik diciptaan untuk
membantu manusia. Namun karena bahannya yang memakan waktu lama dalam
penguraiannya, menjadi monster untuk bumi.
Karena itu dengan digelarnya diskusi publi ini, Walikota
Banjarmasin, Ibnu Sina, berharap dapat membantu menyadarkan masyarkat, terutama
kaum milenial untuk mengurangi pemakaian plastik dalam bentuk apapun. (oie/foto: oliv)
