JAKARTA, banuapost.co.id– Lahan baru bagi mafia rumah sakit dengan memanfaatkan pandemi Covid-19. Caranya, mengcovidkan orang sakit yang sesungguhnya tidak terpapar virus korona.
Dengan demikian, biaya perawatan pasien terinfeksi yang bisa mencapai ratusan juta rupiah dari pemerintah, jadi bancakan bersama.
Karena kondisi seperti itu, Ind Police Watch (IPW) meminta Polri membongkar praktik tidak waras di dunia medis tersebut.
“Dari pendataan IPW, keuntungan yang diperoleh mafia rumah sakit dalam mencovidkan orang, jumlahnya tidak sedikit,” ujar Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, dalam rilis yang diterima redaksi banuapost.co.id, Sabtu (3/10).
Sebab biaya perawatan pasien terinfeksi, lanjut Neta, bisa mencapai Rp 290 juta. Jika mafia rumah sakit mengcovidkan puluhan atau ratusan orang, bisa dihitung berapa banyak uang negara yang ‘dirampok’ di tengah pandemi Covid-19 ini.
“Karena itu IPW minta Polri, khususnya Bareskrim Polri, segera membongkar mafia rumah sakit yang memanfaatkan pandemi Covid-19 untuk meraih keuntungan,” tandas Neta.
Padahal, sambung Neta, kasus yang mengcovidkan tersebut sudah marak dan ramai bermunculan di berbagai media sosial.
Bahkan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Moeldoko, di Semarang, Jumat (2/10), tak menampik banyaknya isu rumah sakit memvonis pasien yang meninggal dicovidkan agar mendapatkan anggaran dari pemerintah.
Oleh sebab itu, Moeldoko minta harus ada tindakan serius agar isu yang menimbulkan keresahan masyarakat ini segera tertangani.
Seperti diketahui, dalam Surat Menteri Keuangan Nomor S-275/MK 02/2020, 6 April 2020, yang memuat aturan serta besaran biaya perawatan pasien Covid-19 menyebutkan:
Jika seorang pasien dirawat selama 14 hari, maka asumsinya pemerintah menanggung biaya sebesar Rp 105 juta sebagai biaya paling rendah. Sedang untuk pasien komplikasi, pemerintah setidaknya harus menanggung biaya Rp 231 juta per orang.
Biaya yang tidak kecil ini, menurut Neta, membuat mafia rumah sakit bergerak untuk ‘merampok’ anggaran tersebut.
Karena itu tak heran, banyak keluhan di medsos yang beredar, masyarakat diminta menandatangani anggota keluarganya kena Covid-19 dan diberi sejumlah uang oleh pihak rumah sakit.
“Padahal sesungguhnya, keluarga terkena penyakit lain. Selain itu ada orang diperkirakan Covid-19 terus meninggal dengan hasil tes belum keluar. Setelah hasilnya keluar, ternyata negatif,” ucap Neta tanpa merinci kasusnya di daerah dan provinsi mana. (yb/*/foto: ist)