BATULICIN, banuapost.co.id – Tidak semua anak menemukan keberaniannya dengan cara yang sama. Ada yang mulai percaya diri setelah menulis. Ada yang menemukan dirinya ketika berdiri di depan banyak orang. Ada pula yang baru menyadari kemampuannya setelah berani mengikuti sebuah perlombaan.
Di SMKN 2 Simpang Empat, ruang untuk menemukan keberanian itu coba dibangun melalui Diamond Literasi.
Gerakan literasi yang dibentuk sejak 1 Juni 2024 tersebut tidak sekadar mengajak murid membaca buku. Lebih jauh, Diamond Literasi mendorong mereka mengolah apa yang dibaca menjadi gagasan, karya, pengalaman, hingga prestasi.
Gerakan ini digagas Asniyati, S.Si.T., guru sekaligus Kepala Perpustakaan Wiyata Bhakti Pustaka SMKN 2 Simpang Empat. Ia melihat bahwa budaya membaca akan lebih bermakna jika pengetahuan yang diperoleh murid tidak berhenti di halaman buku.
“Kami ingin murid mendapatkan kesempatan untuk melakukan sesuatu setelah membaca, mengembangkan gagasan, menghasilkan karya, dan berani menunjukkan kemampuan yang mereka miliki,” ujar Asniyati.
Bagi Diamond Literasi, membaca bukan garis akhir. Justru dari sanalah perjalanan dimulai.
Dari Buku, Tumbuh Keberanian
Membangun budaya membaca di kalangan generasi muda bukan perkara sederhana. Tantangannya bukan hanya membuat murid membuka buku, tetapi membuat mereka menemukan alasan mengapa membaca penting bagi kehidupan mereka.
Diamond Literasi mencoba mendekatkan literasi dengan pengalaman murid.
Mereka diberi kesempatan untuk menulis, berbicara, menyampaikan pendapat, membuat karya kreatif, serta mengikuti berbagai kompetisi. Pengetahuan yang diperoleh dari bacaan dipertemukan dengan ruang untuk mencoba.
Murid yang semula ragu tampil mulai berani mengikuti perlombaan. Mereka yang merasa belum memiliki kemampuan diberi kesempatan untuk mencoba. Tidak semuanya langsung berhasil. Tetapi dari keberanian mencoba itulah pengalaman terbentuk.
“Membangun budaya membaca di kalangan generasi muda bukan perkara mudah. Tantangannya adalah bagaimana membuat kegiatan membaca menjadi sesuatu yang bermakna dan memiliki hubungan dengan kehidupan mereka,” jelas Asniyati.
Karena itu, bagi Diamond Literasi, sebuah kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Keberanian seorang murid untuk pertama kali tampil di depan orang lain, keberanian mengirimkan karya, atau kemauan untuk mencoba kembali setelah gagal juga merupakan bagian dari keberhasilan.
Apa yang ditanam melalui proses tersebut mulai memperlihatkan hasil. Pada 2026, murid SMKN 2 Simpang Empat menorehkan sejumlah prestasi. Di antaranya Juara 1 Lomba English Speech, Juara 1 Lomba Desain Grafis, Juara 1 Lomba Komik FLS3N, serta Juara 3 Lomba Baca Puisi FLS3N.
Prestasi itu sekaligus memperlihatkan bahwa literasi memiliki wajah yang jauh lebih luas daripada sekadar aktivitas membaca.
Kemampuan memahami informasi dapat menjadi bekal untuk berbicara di depan publik. Gagasan yang diperoleh dari berbagai sumber dapat berkembang menjadi desain. Imajinasi dapat menemukan bentuknya melalui komik. Sementara kepekaan terhadap bahasa dan kehidupan dapat dituangkan dalam puisi.
Namun di balik sederet penghargaan tersebut, terdapat proses yang tidak selalu terlihat. Ada latihan yang berulang, kegagalan, rasa ragu, pendampingan, dan dorongan dari orang-orang yang meyakinkan seorang murid bahwa dirinya mampu.
Ada Guru di Balik Keberanian Murid
Bagi salah seorang murid yang berhasil meraih prestasi itu, pencapaian yang diperolehnya bukan semata-mata hasil dari kemampuan pribadi. Ada guru dan pendamping yang memberikan arahan sekaligus keyakinan ketika ia menjalani proses.
“Saya bisa meraih prestasi ini tak terlepas dari bimbingan. Support dari pendamping sangat berarti. Saya hanya bisa mengirimkan doa semoga dilancarkan rezeki, dipanjangkan umur, dan selalu diberikan kesehatan untuk pendamping yang selalu hadir,” ujar Lintang.
Kalimat itu sederhana. Namun di dalamnya ada cerita tentang hubungan yang sering kali tidak tercatat dalam sebuah piagam penghargaan. Di balik nama seorang pemenang, ada orang yang mendampingi ketika latihan terasa berat. Ada yang memberi masukan ketika karya belum sempurna. Ada pula yang tetap memberi semangat ketika kepercayaan diri mulai turun.
Di Diamond Literasi, guru ditempatkan bukan sekadar sebagai pemberi tugas atau pengarah kegiatan. Guru juga menjadi tempat murid bertumbuh.
“Yang terpenting adalah keberanian untuk memulai, kemauan untuk belajar, dan kesediaan untuk terus berkembang,” kata Asniyati.
Keteladanan Sebelum Ajakan
Asniyati juga menyadari bahwa budaya literasi sulit tumbuh hanya melalui ajakan. Karena itu, ia berusaha menunjukkan bahwa proses belajar dan berkarya tidak berhenti ketika seseorang menjadi guru. Sejumlah pencapaian yang diraihnya antara lain Juara 2 Konten Literasi, Juara Harapan 1 Duta Baca Tanah Bumbu, Juara Passion Show Hari Kartini, Pemenang Foto On The Spot, serta Juara Guru Inovatif.
Baginya, keteladanan menjadi bagian penting dalam membangun budaya literasi. Ajakan membaca akan terasa lebih kuat ketika murid melihat gurunya juga membaca. Dorongan untuk berkarya menjadi lebih bermakna ketika guru menunjukkan bahwa dirinya pun terus belajar, mencoba, dan menghasilkan karya. Literasi, dengan demikian, bukan sekadar slogan yang ditempel di dinding sekolah. Ia membutuhkan contoh yang hidup.
Diamond Literasi juga tidak ingin perjalanan literasi berhenti ketika murid meninggalkan sekolah. Alumni tetap dirangkul melalui ruang komunikasi bersama murid yang masih aktif. Mereka dapat berbagi pengalaman, memberikan motivasi, menyampaikan informasi, maupun menceritakan perjalanan setelah menyelesaikan pendidikan.
Kehadiran alumni menjadi jembatan yang memperlihatkan kepada murid bahwa apa yang mereka pelajari di sekolah dapat menjadi bekal untuk perjalanan berikutnya. Dari sana tumbuh kesadaran bahwa literasi tidak berakhir ketika seorang murid menerima ijazah. Pengetahuan, pengalaman, dan inspirasi dapat terus dibawa, dibagikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Setiap Anak Punya Cahayanya
Pada akhirnya, Diamond Literasi tumbuh bukan hanya dari satu orang atau satu kegiatan. Ada guru, murid, perpustakaan, alumni, organisasi sekolah, dan berbagai pihak yang ikut membangun ruang tersebut. Masing-masing memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang membuat murid berani mencoba. Sebab, setiap anak memiliki cara berbeda untuk menemukan potensinya.
Ada yang menemukan dirinya melalui tulisan. Ada yang bersinar melalui seni, desain, puisi, komik, kemampuan berbicara, atau bidang kreatif lainnya. Tidak semua anak harus berdiri di panggung yang sama untuk disebut berhasil. Pendidikan bukan tentang membuat semua murid memiliki cahaya yang seragam. Pendidikan adalah tentang memberikan ruang agar setiap anak menemukan sumber cahayanya sendiri. Dari sanalah semangat Diamond Literasi menemukan maknanya. Setiap murid memiliki potensi. Setiap karya memiliki cerita. Dan setiap cahaya layak mendapatkan kesempatan untuk bersinar.
(uza/dari sumber catatan: Asniyati)


