PELAIHARI, banuapost.co.id–
Baku tembak tim gabungan Polda Kalsel dan Kateng dengan begal sapi di Trans
Tanjung Dewa, Desa Batu Tungku, Kecamatan Panyipatan, Tanah Laut, akan menjadi
peristiwa yang tak terlupakan bagi Gazali Akbar.
Bocah berusia 7 tahun itu, ada di dalam mobil saat
kejadian Sabtu (7/9) sekitar pukul 15:00 Wita. Siswa kelas 1 SD itu selamat. Namun
kakak sepupunya, Noviyanti (9), mengalami luka terkena peluru di bagian
kepala.
Sempat dalam perawatan intensif selama empat hari di rumah
sakit Ciputra Hospital, Kertak Hanyar, Novi akhirnya menghembuskan nafasnya
yang terakhir, Selasa (10/9) dini hari.
Keberadaan bocah yang akrab disapa Akbar itu, satu mobil
dengan pelaku kejahatan yang diburu jajaran Satreskrim Polres Pulang Pisau
dibantu Satreskrim Polres Tanah Laut.
Berawal ketika Khairullah yang saat ini masih dalam
perburuan, bertandang ke rumah Irwansyah, orangtua Akbar. Bahkan lelaki yang
diduga sebagai begal sapi di wilayah Kalteng itu, sempat bermalam di rumah
Irwansyah.
Siang hari, tersangka mengajak Akbar dan almarhumah
Novianti untuk pergi ke pasar dengan dalih membelikan hadiah untuk Akbar yang berulang
tahun ke-7 pada hari kejadian.
Menurut Akbar, dirinya dan kakak sepupunya dipaksa untuk
ikut. Ia akhirnya mau setelah Irwansyah, orangtua Akbar, juga ikut masuk ke
dalam mobil.
Selang sekitar 100 meter dari rumah orangtua Novianti,
kakak sepupunya itu, menurut Akbar, mobil yang mereka tumpangi diikuti mobil
lain. Salah satunya berada di depan.
“Mobil yang dikemudikan teman ayah menabrak mobil yang
ada di depan, karena mobil di depan mengerem mendadak,” kata Akbar memulai
ceritanya.
“Teman ayah langsung memundurkan mobil, dan membenturkannya
dengan mobil yang ada di belakang,” lanjut Akbar yang tampak tidak merasa
trauma dengan kejadian horror yang dialaminya.
Bocah ini pun dengan lancar menceritakan bagaimana orangtuanya
berusaha menghentikan mobil yang dikemudikan tersangka,.Sampai akhirnya tersangka
kabur menerobos perkebunan kelapa sawit.
“Setelahnya saya tidak tahu apa yang terjadi. Karena saat
mendengar suara tembakan, saya disuruh ayah merunduk sampai mobil akhirnya
berhenti,” papar Akbar.
Menurut putra pasangan Irwansyah dan Ny Ana ini, setelah terdengar
tembakan, kakak sepupunya yang duduk di jok tengah sudah dalam posisi terkulai
sebelum diangkat ayahnya yang kemudian dibantu petugas kepolisian.
“Kakak mengeluarkan darah di kepala saat ayah
mengangkatnya, kemudian dibantu polisi,” ujar Akbar seusai pemakaman sepupunya.
Meski mengalami peristiwa yang cukup menyeramkan, Akbar
mengaku hanya kaget sebentar. “Saya hanya kaget saja saat kejadian
berlangsung,” kata Akbar sambil terus bermain dengan teman-teman sebayanya di
sekitar rumah duka. (zkl/foto: zul yunus)
