PALANGKA RAYA, banuapost.co.id–
Tak dapat dipungkiri, arah pergerakan ekonomi Indonesia tidak bisa lepas dari
perkembangan ekonomi global.
Bahkan perang dagang Amerika-China, berdampak besar pada
perlambatan ekonomi. Sehingga membuat kinerja ekspor kian turun. Akibatnya,
ekonomi dalam negeri pun butuh stimulus dari kebijakan moneter dan fiskal.
Menghadapi kondisi demikian, sebagai bank sentral di
Indonesia, Bank Indonesia (BI) mengarahkan operasi moneternya untuk memastikan
likuiditas di pasar uang.
Meski demikian, BI tetap mengedepankan stabilitas. Sebagai
bank sentral, tetap memberikan ruang bagi kebijakan moneter untuk mendorong
pertumbuhan
Salah satu kebijakan moneter yang dikeluarkan BI,
menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah untuk Bank Umum Konvensional dan
Bank Umum Syariah/Unit Usaha Syariah sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei 2019.
Penurunan GWM ini, dilakukan guna menambah ketersediaan
likuiditas perbankan untuk menyalurkan kredit. Dengan demikian, GWM
masing-masing menjadi 6,0 persen dan 4,5 persen. Adapun GWM Rerata,
masing-masing tetap sebesar 3 persen.
“Penurunan ini berlaku efektif mulai 1 Juni
2019,” ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo, ketika memberikan keterangan pers
terkait hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, beberapa bulan lalu.
Turun
2 kali
Sementara untuk memacu pertumbuhan ekonomi di tengah
perang dagang Amerika-China, BI juga telah menurunkan suku bunga acuan atau BI
7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) dua
kali di 2019.
BI pertama kali menurunkan BI7DRR pada pertengahan Juli
2019 sebesar 25 bps, dari 6 persen menjadi 5,75 persen suku dengan bunga
Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi sebesar 5 persen. Sedang suku bunga
Lending Facility, sebesar 25 bps menjadi 6,5 persen.
Bulan berikutnya, BI kembali menurunkan BI7DRR sebanyak
25 bps menjadi 5,50 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi
sebesar 4,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi
6,25 persen.
Penurunan suku bunga acuan, diharapkan dapat memicu
pertumbuhan investasi di Indonesia. Selain itu, stimulus kebijakan moneter ini
diharapkan akan membawa investor di pasar saham untuk berpindah ke instrumen
investasi yang lebih aman, seperti obligasi pemerintah dan investasi rill atau
investasi langsung.
Dalam Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2019, kebijakan
penurunan BI7DRR tersebut konsisten dengan rendahnya prakiraan inflasi yang
berada di bawah titik tengah sasaran.
Tetapi menariknya, imbal hasil investasi aset keuangan domestik.
Sehingga mendukung stabilitas eksternal, serta sebagai langkah pre-emptive
untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ke depan dari dampak perlambatan
ekonomi global.
BI juga menyatakan, strategi operasi moneter tetap
diarahkan untuk memastikan kecukupan likuiditas dan meningkatkan efisiensi
pasar uang. Sehingga memperkuat transmisi kebijakan moneter yang akomodatif.
Ke depan, Bank Indonesia akan melanjutkan bauran
kebijakan yang akomodatif, sejalan dengan rendahnya prakiraan inflasi,
terjaganya stabilitas eksternal, dan perlunya terus mendorong momentum
pertumbuhan ekonomi.
Sedang koordinasi Bank Indonesia dengan pemerintah dan
otoritas terkait, terus diperkuat untuk mempertahankan stabilitas ekonomi,
mendorong permintaan domestik, serta meningkatkan ekspor, pariwisata, dan
aliran masuk modal asing, termasuk Penanaman Modal Asing (PMA). (*/sut/foto: ist)
