JAKARTA, banuapost.co.id–
Presiden buka-bukaan mengapa memilih infrastruktur sebagai fokus pemerintahan
dalam lima tahun pertama? Ternyata, infrastruktur merupakan modal utama bagi
Indonesia untuk melaju dan bersaing dengan negara-negara lain di masa
mendatang.
“Infrastruktur artinya banyak sekali dan dengan itulah kita nanti memiliki fondasi yang kuat untuk berkompetisi dengan negara lain,” ujar Kepala Negara dalam diskusi Forum A1 yang digelar di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (14/11).
Seminar Forum A1 mengangkat tema: “Makmur dan
Terhubung Berkat Infrastruktur” digelar Inisiator Indonesia. Forum. Menghadirkan
Presiden Joko Widodo, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan Menhub sebagai
narasumber.
Saat ini, negara Indonesia masih berupaya untuk terus
meningkatkan daya saingnya.
“Kita masih berada pada posisi di tengah terhadap
negara-negara lain dalam Indeks Daya Saing. Kita ingin berada pada posisi di
depan,” tandasnya.
Namun demikian, sambung presiden, infrastruktur bukan
semata melakukan pembangunan sejumlah sarana, seperti jalan tol, pelabuhan,
bandara, dan lain sebagainya. Di balik itu semua terdapat manfaat dan arti lain.
“Infrastruktur itu yang pertama, cipta lapangan
kerja. Menciptakan lapangan kerja,” ujarnya.
Dalam proses pembangunan, tentu dibutuhkan keterlibatan
tenaga manusia sebagai faktor utama pendukung. Dengan demikian, pembangunan
infrastruktur yang dilakukan secara masif dan merata di penjuru Nusantara, akan
membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
“Yang kedua, menciptakan titik-titik pertumbuhan
ekonomi baru,” ucapnya.
Pembangunan infrastruktur, utamanya di daerah, akan
membuka akses baru atau semakin mempermudah akses yang sudah ada untuk
menjangkau. Kemudahan akses nantinya dapat meningkatkan aktivitas ekonomi di
suatu wilayah.
“Kemudian yang ketiga, ada perbaikan jaringan
logistik kita,” ucapnya.
Sebagai negara kepulauan yang terdiri atas kurang lebih
17 ribu pulau, menimbulkan tantangan tersendiri bagi Indonesia dalam hal
konektivitas.
Pembangunan infrastruktur yang berupaya menghubungkan
wilayah-wilayah Indonesia tersebut, menjadikan jaringan logistik di Indonesia
bertahap semakin baik.
“Ini juga memfasilitasi produksi. Sehingga
infrastruktur yang sudah kita kerjakan lima tahun kemarin, harus disambungkan
dengan sentra-sentra produksi, baik itu produksi pertanian, produksi nelayan,
hingga industri kecil,” tuturnya.
Adapun yang keempat, Presiden Joko Widodo mengartikan
infrastruktur sebagai sebuah pelayanan publik yang menjadi kewajiban pemerintah
untuk menyediakannya kepada masyarakat.
“Saya berikan contoh yang paling nyata. Misalnya
dari Wamena ke Nduga yang sebelumnya harus jalan kaki butuh waktu 4 hari 4
malam, dengan jalan yang sudah dibangun Kementerian PUPR, sekarang hanya
kira-kira 5-6 jam sudah sampai,” ujar presiden.
Selain itu, sambung presiden, membangun infrastruktur
berarti membangun peradaban. Banyak budaya baru yang coba dikenalkan atau
ditegaskan dengan adanya suatu infrastruktur baru yang belum pernah ada di
suatu wilayah.
“Orang sering lupa, kita ini membangun peradaban.
Budaya antre, budaya disiplin, dan itu terlihat misalnya kita membangun MRT.
Kelihatan di situ orang mulai ada budaya antre dan budaya disiplin untuk masuk
secara berurutan,” ucapnya.
Terakhir, Kepala Negara menegaskan, membangun
infrastruktur berarti mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sebagaimana diketahui, selama ini pembangunan infrastruktur terpusat hanya di
Pulau Jawa.
Sehingga ketimpangan infrastruktur di antara pulau-pulau
lain di Indonesia, menjadi besar. Dengan pembangunan yang dilakukan secara
merata pada periode pertama pemerintahan Joko Widodo, pemerintah hendak
mengupayakan sila kelima dari Pancasila.
“Tidak hanya di Jakarta yang dibangun, tidak hanya
di Pulau Jawa yang dibangun, tapi juga seluruh provinsi yang ada di negara ini
harus kita sentuh dengan kehadiran infrastruktur,” tandasnya. (yb/din/foto: laily rachev)
