BANJARMASIN, banuapost.co.id– Ekonomi global sepanjang 2019, tidak ramah. Bahkan berdampak buruk dibanyak negara, tidak hanya AS dan Tiongkok. Kondisi demikian, kemungkinan belum akan pulih di 2020 mendatang.
“Begitupun dengan penurunan suku bunga dan injeksi
likuiditas di banyak negara, juga belum mampu menyelamatkan ekonomi dunia,”
ujar Direktur Eksekutif Perwakilan BI Kalsel, Herawanto.
Herwanto mengungkapkan itu dalam pertemuan Forum Tahunan
Bank Indonesia yang mengusung tema: Sinergi, Transformasi, dan Inovasi Ekonomi
Kalimantan Selatan untuk Mendukung Indonesia Maju” di kantor bank tersebut,
Rabu (11/12) pagi.
Karena itu untuk mengatasi imbas perang dagang AS dan
Tiongkok ini, lanjut Herwanto, perlu sinergi bauran kebijakan ekonomi nasional,
daerah, moneter, fiskal dan reformasi struktural.
Terlebih lagi dengan dikuasainya jasa keuangan oleh sembilan
pemain dunia, dan meningkat pesatnya digitalisasi merasuk ke berbagai sektor, oleh
sebab itu perlu membuat integrasi ekonomi keuangan digital secara nasional.
“Secara makro dan nasional, sinergi bauran kebijakan
makro ekonomi dan sistem keuangan antara pemerintah, BI, OJK, dan LPS, harus diperkuat
untuk ketahanan ekonomi nasional,” tgasnya.
Begitupun dengan transformasi ekonomi, sambung Herwanto, harus
ditingkatkan agar pertumbuhan lebih tinggi lagi. Seperti sumber pertumbuhan
dalam negeri dikembangkan, perbaikan iklim investasi, pembangunan infrastruktur
dan SDM dipercepat.
“Namun kita patut bersyukur, di tengah memburuknya
ekonomi global, kinerja dan prospek ekonomi Indonesia cukup baik ditopang
permintaan domestik, konsumsi, dan investasi. Pertumbuhan yang membaik juga
tercatat di sejumlah wilayah NKRI,” pungkasnya. (oie/foto: olive)
