JAKARTA, banuapost.co.id– Selain memiliki tugas utama sebagai duta perdamaian, sebagaimana diamanatkan konstitusi, perwakilan Indonesia di luar negeri juga diminta mengupayakan diplomasi ekonomi.
“Saya ingin fokusnya di situ, di diplomasi ekonomi.
Karena itulah yang sekarang ini sedang diperlukan negara kita. Oleh sebab itu,
penting sekali para duta besar ini sebagai duta investasi,” jelas Presiden
Joko Widodo.
Permintaan itu dikemukakan Kepala Negara ketika membuka
Rapat Kerja (Raker) Kepala Perwakilan RI dengan Kementerian Luar Negeri di
Istana Negara, Kamis (9/1).
Sebagai duta investasi, lanjut presiden, para duta besar
harus mampu mengidentifikasi jenis investasi di bidang apa yang diperlukan dan
diprioritaskan Indonesia.
“Kita tahu yang namanya petrochemical itu masih
impor, 85 persen masih impor. Sehingga kalau kita ingin mendatangkan investasi,
cari produk-produk yang berkaitan dengan barang-barang substitusi impor kita.
Petrokimia berkaitan dengan methanol misalnya,” ungkapnya.
Bidang kedua yang harus diprioritaskan adalah energi. Hal
ini mengingat Indonesia masih mengimpor energi, baik minyak maupun gas, dalam
jumlah yang cukup besar.
Secara spesifik, Kepala Negara meminta para duta besar
mencari investor yang memiliki kemampuan dalam mengelola material yang banyak
dimiliki Indonesia, seperti batubara.
Datangkan investor yang memiliki teknologi yang berkaitan
dengan batubara. Karena batubara bisa diubah menjadi DME dan LPG. Sehingga
investasi yang berkaitan dengan DME, LPG, supaya Indonesia tidak impor gas LPG lagi. Mengingat
material batubara banyak sekali.
Selain batubara, presiden juga meminta para duta besar
aktif mencari investor yang mampu mengubah kelapa kopra menjadi avtur. Demikian
juga dengan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebagai campuran diesel
melalui B20, B30, B50, maupun B100 nantinya.
“Dengan demikian, Indonesia tidak akan lagi mengekspor
komoditas-komoditas tersebut dalam bentuk bahan mentah atau raw material,” tandasnya.
Jika Indonesia bisa memproduksi B50, Kepala Negara
meyakini, posisi tawar Indonesia terhadap semua negara akan meningkat. Misalnya
terhadap Uni Eropa yang acapkali melakukan boikot terhadap sawit Indonesia.
Dengan meningkatkan investasi di bidang-bidang tersebut,
presiden berharap neraca transaksi berjalan dan neraca perdagangan Indonesia
akan semakin baik. Untuk itu, dukungan para duta besar terhadap investasi
sangat diperlukan. (yb/din/foto: setneg)