JAKARTA, banuapost.co.id– Efektivitas sistem Pilkada langsung, didiskusikan Mendagri Tito Karnavian dengan mengundang perwakilan sembilan universitas di kantor Kemendagri, Jl Merdeka Utara, Jumat (7/2).
Ke-9 universitas yang diundang secara khsuus itu, Universitas
Indonesia (UI), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Gajah Mada (UGM),
Universitas Andalas, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Padjadjaran,
Universitas Lambung Mangkurat, dan
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Dalam diskusi selama 2,5 jam tersebut, Mendagri Tito
Karnavian, mengatakan, dari aspek politik pilkada sangat esensial bagi
demokrasi di Indonesia.
“Sejak 2004 hingga 2018, di samping menghasilkan
aspek positif, pilkada langsung juga menyimpan berbagai ekses sebaliknya. Di
antaranya konflik sosial berbasis identitas, keterbelahan masyarakat dalam dua
kubu yang bertentangan, hingga memicu kerawanan sosial serta berbiaya sangat tinggi,” katanya.
Akibat biaya tinggi pilkada secara langsung, lanjut Tito,
telah berpengaruh pada kualitas tata
kelola kepemimpinan di daerah.
Oleh sebab itu jika ekses negatif pilkada ini dibiarkan
terus-menerus, alam demokrasi di Indonesia akan timbul benih-benih konflik
sosial di masyarakat.
“Karena itu memang sudah sepatutnya perlu diadakan evaluasi terhadap efektivitas dari sistem pilkada langsung. Namun, kami ingin evaluasi itu dilakukan secara akademis oleh pihak independen eksternal, yakni universitas,” jelas Tito.
Riset desain evaluasi
Menanggapi hal tersebut, para perwakilan universitas
menyambut positif dan menghargai inisiatif pertemuan dari mendagri ini.
“Ini adalah kesempatan pertama kami bertemu dengan mendagri
setelah polemik ramai rencana mengubah pilkada langsung,” ujar Wawan Mas’udi
dari Departemen Politik dan Pemerintahan UGM Yogyakarta.
Menurut Wawan, ada kekeliruan di masyarakat selama ini, seolah mendagri ingin mengembalikan sistem pilkada
menjadi tidak langsung.
“Ternyata tujuan mendagri, evaluasi bersifat
komprehensif tentang pilkada langsung di Indonesia guna mereduksi ekses negatif
pilkada serta menyesuaikan dengan kondisi perkembangan masyarakat,” ungkap
Wawan.
Sementara menurut Ferry Liando, dosen Universitas Sam
Ratulangi, universitasnya telah berpengalaman di dalam melakukan riset pilkada,
khususnya dari aspek budaya lokal seperti yang iinginkan mendagri.
Karena itu, kata Ferry, bila mendagri ingin menyesuaikan
sistem pilkada dengan kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat daerah, itu
adalah hal yang sangat patut didukung dan ide ini sangat relevan.
“Kami sangat senang dan bersedia membantu mendagri
untuk melakukan riset akademis untuk perbaikan pilkada dari berbagai aspek,
termasuk aspek manajemen konflik sosial,” pungkas Ferry.
Sebagai tindak lanjut pertemuan ini, pihak universitas
akhirnya sepakat untuk mengusulkan riset desain evaluasi bersifat akademis
tentang pilkada langsung ke kemendagri dalam rangka evaluasi komprehensif pilkada.
(yb/*/foto: ist)
