JAKARTA, banuapost.co.id– Sedkitnya 8 bendungan yang menjadi program strategis di sejumlah daerah lumbung pangan nasional, termasuk di Kabupaten Tapin, Kalsel, selesai di 2020 ini.
Ke-8 bendungan, yakni
Paselloreng di Sulawesi Selatan; Ladongi (Sulawesi Tenggara), Tapin (Kalimantan
Selatan), Way Sekampung (Lampung), Kuningan (Jawa Barat); dan tiga bendungan di
Jawa Timur, Bendo (Ponorogo), Tukul (Pacitan) dan Gongseng (Bojonegoro).
Khusus untuk bendungan di
Desa Pipitak Jaya, Kecamatan Piani, Tapin, memiliki kapasitas tampung 56,77
meter kubik. Progres pembangunannya sudah mencapai 95 persen. Dengan selesainya
bendungan, berpotensi memberikan layanan irigasi di kabupaten tersebut ke 5.472
hektare sawah.
Menurut Menteri PUPR,
Basuki Hadimuljono, dalam rilis, Kamis
(20/2), potensi air di Indonesia cukup tinggi, yakni sebesar 2,7 triliun meter
kubik/tahun.
Dari volume tersebut, air
yang bisa dimanfaatkan sebesar 691 miliar meter kubik/tahun dan sudah
dimanfaatkan 222 miliar meter kubik/tahun untuk berbagai keperluan, seperti
rumah tangga, peternakan, perikanan dan irigasi.
“Namun potensi
sebesar itu, keberadaannya tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Sehingga kita
membutuhkan tampungan-tampungan air,” jelas Menteri Basuki.
Dengan begitu pada saat
musim hujan, lanjut Menteri PUPR, air ditampung untuk dimanfaatkan musim
kemarau. Itulah gunanya bendungan dan embung/setu untuk penampungan air.
Dengan selesainya bendungan
tersebut, menurut Menteri Basuki, maka akan menambah jumlah tampungan air
sebesar 408,89 juta meter kubik.
Bendungan pertama yang
telah rampung 100 persen konstruksinya, yakni Paselloreng. Bendungan ini
memiliki luas genangan 1.892 hektare dengan kapasitas tampung 138 juta meter kubik
untuk mengairi 8.510 hektare sawah.
Pembangunannya
dikerjakan PT Wijaya Karya-PT Bumi Karsa, KSO (Kerja Sama Operasi) dengan biaya
Rp 753,4 miliar.
Sementara progres fisik
Bendungan Tukul dengan daya tampung 8,68 juta meter kubik untuk menyuplai irigasi
seluas 600 hektare dan air baku 300 liter per detik, sudah 76,2 persen.
Pembangunan Bendungan
Tukul dimulai pada 2013 hingga 2020 dengan kontraktor PT Brantas Abipraya
sebesar Rp 904 miliar.
Sedang Bendungan
Gongseng yang dibangun mulai 2013 hingga 2020, memiliki kapasitas tampungan
22,43 juta meter kubik. Saat ini, progres konstruksinya 76,03 persen.
Selanjutnya Bendungan
Bendo dengan kapasitas 43,11 juta meter kubik air, saat ini progres fisiknya
sudah sebesar 70,97 persen. Pembangunan Bendungan Bendo dikerjakan PT. Wijaya
Karya, PT Hutama Karya dan PT. Nindya Karya (KSO) dengan biaya total sebesar
Rp1,080 triliun.
Untuk Bendungan Ladongi
dimulai pembangunannya pada 2016 dengan kapasitas tampung 45,94 juta meter
kubik dan akan mengairi areal sawah irigasi seluas 3.604 hektar. Saat ini
progres fisiknya sudah 71,22 persen.
Bendungan Way Sekampung
dengan kapasitas tampung 68 juta meter kubik yang akan dimanfaatkan untuk
penyediaan air irigasi DI Sekampung seluas 55.373 hektar dan menambah areal
irigasi DI Rumbia Extension seluas 17.334 hektare. Saat ini progres fisiknya
sudah sebesar 84,50 persen.
Serta, Bendungan
Kuningan seluas 221 hektare yang membendung Sungai Cikaro akan memiliki volume
tampung total sebesar 25,96 juta meter kubik, yang akan menjadi sumber
pengairan irigasi seluas 3.000 hektare sawah di dua daerah irigasi (DI), yakni Cileuweung,
Kabupaten Kuningan seluas 1.000 hektare dan Jangkelok, Kabupaten Brebes
seluas 2.000 hektare. Saat ini progres fisiknya mencapai 97,5 persen. (yb/bgla/foto: ist)