BANJARMASIN, banuapost.co.id– Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalsel menggelar Bimbingan Teknis (Bintek) Pendataan Perpustakaan Sekolah SMP dan SMA Sederajat 2020.
Bintek yang digelar di Ballroom Rattan Inn, Senin (2/3)
pagi, dihadiri Kepala Perpustakaan Nasional, Drs M Syarif Bando. Sementara para
peserta, kepala sekolah dan pengurus
perpustakaan sekolah. Acara digelar selama 2 hari, 2 hingga 3 Maret mendatang.
Menurut Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Kalsel, Hj
Nurliani, tujuan bintek untuk mengevaluasi capaian pendataan di perpus sekolah,
menyusun sinegritas program kerja antara dispersip dengan semua jenis
perpustakaan.
“Selain itu, untuk memberikan pemahaman kepada para
pengurus perpus sekolah maupun kepala sekolah, tentang pentingnya data pemetaan
perpustakaan,” jelasnya.
Data 2019, sambung Hj Nurlini, total 1.086 perpustakaan sekolah
jenjang SMA, SMK, Madrasah Aliyah Negeri maupun swasta yang dibina dispersip.
“194 SLTA sederajat dari 136 negeri, 58 swasta, 124
SMK terdiri dari 60 negeri dan 64 swasta, 168 Madrasah Aliyah dengan 42 negeri
juga 126 swasta yang dibina dispersip,” papar Nunung, sapaan akrabnya
Untuk sekarang ini, lanjut Nunung, disperpis belum
mendapatkan data kondisi sesungguhnya perpustakaan sekolah tersebut.
“Sudahkah mereka memiliki Nomor Pokok Perpustakaan
(NPP). Itu berguna sebagai penanda keberadaan sebuah perpus,” imbuhnya.
Kondisi demikian, menurut Nunung, belum lagi para
pengelola perpustakaanya apakah sudah pernah mengikuti pelatihan teknis. Bagaimana
kondisi koleksi yang ada, sudah mendukung kurikulum yang berlaku di sekolah atau
belum.
Dengan dimilikinya data valid, akurat dan update,
ditegaskan Nunung, dapat dijadikan bahan untuk membuat kebijakan yang baik.
Selain menggelar bintek, dispersip juga menyerahkan SK Kepala
Perpustakaan Nasional RI hasil akreditasi perpustakaan yang telah dilaksanakan
pada 2019 lalu.
“Masing-masing perpustakaan sekolah mendapatkan
predikat A, B, dan C. Namun ada juga yang belum terakreditasi,” katanya.
Dari hasil akreditasi, ada 22 sekolah yang mengikuti
pelaksanaan. Namun hanya 19 yang berhasil lolos terakreditasi.
“Diharapkan dari hasil akreditasi, dapat
meningkatkan motivasi dan kinerja agar menjadi lebih baik lagi. Sehingga
memenuhi Standar Nasional Perpustakaan (SNP),” harap Nunung. (oie/foto: olive)