PELAIHARI– Demi mendapatkan satutabung gas LPG 3 kg, warga Tanah Laut, khususnya warga Desa Panggung, Pelaihari, rela mengantri sejak pukul 04: 00 Subuh, Selasa (4/9).
Meski demikian, warga juga tidak dapat mmbawa langsung salah satu bahan untuk menghidupkan kepeluan dapur itu. Mereka hanya menerima kupon dan membajar Rp20.000.
Bahkan uniknya lagi, meski sudah menyetor uang sejumlah itu, tidak jarang pula warga yang antri berjam-jam tidak kebagian kupon. Akibatnya akan salah satu kebutuhan untuk mengapi’i komor dapur ini dibeli di warung-warung yang harganya pun menjadi selangit.
Carut marut pendistribusian gas LPG 3 kg ini ternyata lebih parah dibandingkan saat masih menggunakan minyak tanah. Saat itu, setiap antrian warga dipastikan mendapatkan jatah sesuai dengan kuota.
Sedang gas LPG 3 kg sudah antriannya mulai subuh, tidak jarang warga yang terlambat datang harus gigit jari karena kuota yang dinagikan terbatas.
Relanya warga Desa Panggung mengantri sejak subuh karena harga dieceran jauh dibandingkan di pangkalan. Saat ini harga eceran gas 3 kg di warung-warung Rp30.000 sampai Rp35.000. Sedang di pangkalan Rp20.000 dan dibagikan 4 kali dalam satu bulan.
Zuhrah, salah seorang warga Desa Panggung, mengaku kecewa tidak mendapatkan kupon pengambilan LPG 3 kg. Padahal ia sudah keluar dari rumah pukul 05:30 Wita.
Menurut Zuhrah, ia tidak lagi berminat untuk antri, dan memiih membeli pada pengecer meski mahal.
Sementara Wahid, warga yang rumahnya hanya berjarak 200 meter dari pangkalan LPG 3 kg, berharap pemerintah segera mengawasi pendistribusian gas bersubsidi itu.
Sebab, menurut Wahid, banyak warga di luar Desa Panggung yang ikut antri, sehingga warga setempat banyak yang tidak kebagian.
Kekecewaan serupa dialami ibu Imay, warga RT 14 Desa Panggung yang mengaku memilih lebih baik Sholat Subuh dahulu ketimbang harus keluar rumah untuk antri mendapatkan gas LPG 3 kg.
“Saya jarang ikut antri karena sudah pasti menunggu lama,” katanya.
Sementara Aditya, supervisor PT (persero) Pertamina, dalam penjelasannya melalui WA mengatakan, suplai LPG normal untuk wilayah Kalsel.
“Bahkan ada tambahan suplai sebesar 65.520 tabung periode 20 – 25 Agustus lalu. Per 3 September hingga minggu depan dilakukan penambahan suplai yang ke-2 dan didistribusikan dengan sistem operasi pasar di keluarah maupun di kecamatan,” jelasnya.
Berkaitan dengan harga selangit di luar pangkalan, Aditya mengimbau masyarakat membeli di pangkalanresmi agar mendapatkan sesuai HET yang berlaku.
“Karena di luar pangkalan belum ada aturan yang mengatur harga jualnya,” tulis Aditya. (zkl/foto: zul yunus)