YOGYAKARTA, banuapost.co.id– Kaum intelektual, baik yang berpendidikan S-2 dan S-3, ternyata banyak yang terpapar berita-berita bohong atau hoax.
“Umumnya, mereka generasi transisi yang semasa kecil
belum bersinggungan dengan teknologi,” ujar Direktur Sosialisasi Komunikasi dan
Jaringan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Aris Heru Utomo.
Aris mengemukakan hal itu dalam Sosialisasi Pancasila
kepada Ikatan Sarjana Republik Indonesia (ISRI) dengan tema: ‘Internalisasi
Nilai-nilai Pancasila: Keteladanan Kaum Intelektual dalam Kehidupan Berbangsa
dan Bernegara” di Yogyakarta, Sabtu (14/12).
Menurut Aris, ada data penelitian yang dilakukan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Komunikasi dan
Informatika (Kemenkominfo) yang menyebutkan kaum intelektual justru mudah
terpengaruh dan menjadi korban hoax.
“Pengaruh media sosial sangat luar biasa. Tinggal buat
narasi provokatif dan foto, langsung menyebar berita hoax,” jelasnya.
Oleh karena itu, lanjut Aris mewanti-wanti, kaum intelektual
atau cendekiawan sudah seharusnya melawan hoax yang jelas-jelas tidak
mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sementara Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY),
Prof Wuryadi, menyampaikan 3 hal penting dilakukan.
Ketiga hal itu, menurut Ketua Dewan Penasehat DPN ISRI
ini, antara lain program aksi pendidikan rakyat, program aksi menggalang
persatuan untuk merdeka bersatu dan berdaulat, serta program aksi menuju
kesejahteraan yang adil dengan bermodal pada kekayaan sumber daya alam.
“Namun untuk program aksi tersebut, haruslah merujuk pada
tigal hal. Yaitu maritim, agriculture dan niaga (MAN),” ujarnya. (*/yb/foto: ist)
