BANJARMASIN, banuapost.co.id– Ternyata masalah disabiltas yang selalu digaung-gaungkan Presiden Joko Widodo untuk sama-sama mendapatkan hak, implementasinya tidak sepenuhnya dilakukan Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari.
Hebatnya lagi, penilaian ini justru datang dari Ketua
Dewan Mahasiswa (DEMA) lembaga pendidikan tinggi itu sendiri, Rizal Nagara.
“UIN Antasari belum sepenuhnya ramah disabilitas. Tentunya
predikat ramah disabilitas tidak hanya dinilai dari kebijakan steakholder. Tetapi
juga partisipasi lingkungan masyarakat dan sosial di sekitarnya,” ujar Sekum
HMI Cabang Banjarmasin itu.
Penilaian tersebut dikemukakan Rizal Nagara dalam Seminar Nasional Pendidikan Inklusi yang
diadakan Banjarbilitas bekerjasama dengan Dewan Eksekutif Mahasiswa di Aula
Asywadie Syukur UIN Antasari Banjarmasin.
Di UIN Antasari, lanjut Rizal, fasiltas dan penunjang untuk
kaum disabilitas masih sangat terbatas. Padahal seharusnya, memiliki fasilitas
untuk memudahkan mereka.
“Misalnya seperti pusat pelayanan disabilitas dan pendidikan
inklusi serta rump streat, harus ada di setiap bangunan gedung, termasuk di masjid
maupun ruang kuliah,” jelasnya.
Dengan adanya fasilitas penunjang tersebut, sambung
Rizal, akan memudahkan aksesbilitas mahasiswa penyandang difabel untuk bergerak
dan mandiri dalam beraktivitas.
Menurut Rizal, munculnya stigmasiasi umum dari lingkungan
sosial tentang penyandang disabilitas, menjadi faktor utama sebuah lingkungan disebut
inklusi, selain fasilitas penunjang.
Adanya stigma ini, imbuh Rizal, menyebabkan orang di lingkungan
enggan untuk berteman. Bahkan dari keluarga penyandang sendiripun, masih banyak
yang tidak memberikan support untuk berkreativitas, dan tidak mengizinkan untuk
bergaul dengan teman di lingkungan.
“Umumnya alasan pihak keluarga, enggan dijadikan bahan guyonan dan target tertawaan. Karena asumsi
inilah yang menghambat mereka untuk beraktivitas, seperti masyarakat normal
biasanya,” tandas Rizal.
Seminar Nasional Pendidikan Inklusi ini berlangsung
Selasa (31/120 dengan menghadirkan narasumber nasional, Rosnalisa, Founder
TRUST Psikologi Jakarta, dan Husnul Khatimah, Ketua Forkasi Banjarbaru, serta Direktur
Bina Autis Indonesia.
Sedang moderatornya, Barkatullah Amin, Founder
Banjarbilitas dan Dosen Muda UIN
Antasari Banjarmasin. (*/yb/foto:
ist)
