PALANGKA RAYA, banuapost.co.id- Bagi penyandang disabilitas sensorik yang tinggal di Jl Rajawali, Kota Palangka Raya, mengharapkan belas kasihan pernah dilakoninya cukup lama. Hanya sekadar untuk bertahan hidup.
Namun se iring waktu, Halimin (41), penyandang tuna netra
yang juga ayah seorang putra itu, tersadar. Hidup dengan hanya menengadahkan
tangan meminta, justeru menjadikannya seperti jauh lebih hina lagi.
Dalam kehidupan, minta atau meminta, memang berada di
peringkat terbawah jika dibandingkan dengan memberi. Entah berupa uang atau
barang, ketika memberi dengan ketulusan hati, pintu rejeki pun niscaya akan
terbuka.
Meski rejeki itu sendiri merupakan rahasia Illahi yang
tidak satu mahluk hidupun di muka bumi ini tahu kapan dan dimana datangnya. Halimin
sadar betul itu.
Karena tidak ingin menjadi ‘benalu’ bagi kehidupan orang
lain, penyandang cacat panca indera sejak berusia dua tahun akibat ketiadaan
biaya untuk berobat, mengais rejeki dengan berjualan berbagai macam kue kering
dan jenis cemilan lainnya.
Dengan teman sebilah tongkat, Halimin setiap harinya
harus berjalan kaki puluhan kilometer. Menjajakan dagangannya yang di tempatkan
di ‘troli rakitan’ dan ditarik.
Sementara dagangan yang dijajakan, bukan olahan sang
istri yang juga menyandang keterbatasan daya pikir. Tapi dari para pengrajin
kue di Ibu Kota Provinsi Kalteng tersebut.
Jika keuntungan dibandingkan dengan lelahnya harus berjalan
kaki di tengah teriknya matahari dan gerimis hujan, tentunya tak sebanding.
Namun sebagai seorang lelaki, Halimin harus melakoni profesinya sebagai bentuk tanggungjawab untuk menghidupi kebutuhan se hari-hari keluarga kecilnya.
Halimin diam-diam dan secara tidak langsung, telah memberikan contoh akan betapa pentingnya hidup, terutama bagi yang waras. Berjuang mengejar rejeki, ternyata jauh lebih mulia jika dibandingkan hanya dengan menengadahkan tangan, meminta. (din/foto: udin)
