JAKARTA, banuapost.co.id– Ketua DPR RI, Puan Maharani, menegaskan, selama dalam bingkai Pancasila, aspirasi agama, terutama Islam, menjadi prioritas perhatian.
Komitmen DPR dalam bidang agama itu, dikemukakan cucu
pendiri bangsa yang juga Presiden Pertama RI, Ir Soekarno, dihadapan para alim
ulama peserta Rapat Pleno Dewan Pertimbangan MUI, di Gedung MUI, Jakarta Pusat,
Rabu (19/2).
Pembangunan agama, menurut Puan, diarahkan untuk
memantapkan fungsi dan peran agama sebagai landasan moral dan etika dalam
pembangunan, membina akhlak mulia, memupuk etos kerja, menghargai prestasi, dan
menjadi kekuatan pendorong guna mencapai kemajuan dalam pembangunan.
Karena itu pelayanan urusan di bidang agama, harus menjamin pemenuhan hak setiap warga negara
untuk beribadat menurut agamanya; memperteguh toleransi ke-agamaan, sebagai
praktek ber-Tuhan secara berkebudayaan dengan tanpa ‘egoisme agama’.
“DPR RI yang saya pimpin senantiasa bersedia untuk
bersinergi dan berbagi peran dengan MUI dalam menciptakan Islam yang Rahmatan
Lil Alamin untuk memperkokoh persatuan nasional bangsa Indonesia, agar tujuan
mewujudkan kesejahteraan rakyat dapat segera diwujudkan,” tandasnya.
Oleh sebab itu, sambung Puan, pihaknya juga berharap MUI
membantu meluruskan pandangan-pandangan dan sikap sebagian dari masyarakat yang
berbeda dengan pandangan dan sikap para pendiri bangsa tentang Pancasila.
Menurutnya, Pancasila mengandung unsur keislaman dan
kebangsaan. Laksana dua rel kereta api yang jika keduanya berdampingan dengan
kokoh, akan dapat mengantarkan NKRI yang majemuk sampai kepada tujuannya, yaitu
suatu tatanan masyarakat adil dan makmur serta bahagia lahir batin melalui
pembangunan spritual dan material secara seimbang.
“Sebagai wadah berhimpun ormas-ormas Islam dan para
cendekiawan Islam, MUI memiliki peran
yang amat strategis untuk menyiarkan dakwah Islam yang wasathiyah dan moderat,”
jelas Puan.
Perempuan pertama yang menjabat Ketua DPR RI ini
menegaskan kebijakan-kebijakan politiknya sudah
pasti akan memperhatikan nilai-nilai dan kepentingan Islam.
“Namun harus tetap dalam bingkai Pancasila dan NKRI. Itulah
komitmen ideologis yang menjadi pegangan dan cita-cita perjuangan politik
saya,” tegas Puan yang disambut tepuk tangan peserta rapat pleno.
Diakui Puan, pandangan politiknya terbentuk karena latar
belakang keluarganya yang akrab dengan nilai-nilai keislaman dan
kebangsaan.
“Berada di lingkungan para alim ulama dan cendekiawan
Islam, sebenarnya saya merasa tidak asing lagi. Karena latar belakang keluarga
saya yang berasal dari keluarga muslim yang aktif dalam organisasi
kemasyarakatan Islam,” imbuhnya.
Puan bercerita latar belakang kakeknya, Soekarno, yang berguru kepada tokoh-tokoh muslim,
seperti Haji Oemar Said, dan tokoh Persatuan Islam (Persis), KH Ahmad Hasan, meskipun
menjadi kader dan pengurus Muhamadiyah.
“Begitu pula Nenek saya, Ibu Fatmawati, yang berasal dari
keluarga Muhammadiyah dan pernah memimpin organisasi perempuan Muhammadiyah,
yakni Aisyiyah,” jelasnya.
Puan juga menyinggung
ayahnya, Almarhum H Muhammad Taufiq Kiemas, yang berasal dari latar
belakang keluarga tokoh Masyumi.
“Kakek dari ayah saya bernama Bapak Tjik Agus Kiemas,
beliau seorang purnawirawan perwira TNI AD yang kemudian menjadi tokoh Partai
Masyumi, yang merupakan partai politik Islam yang pernah berjaya di masa itu,”
ucapnya.
Sementara Sekjen Dewan Pertimbangan MUI, Prof Dr Haji
Noor Achmad, meminta Puan melanjutkan peran dan cita-cita almarhum ayahnya
untuk merekatkan kelompok Islam dan
Nasionalis.
Ia berharap, ketua DPR hadir dalam Kongres Umat Islam
yang rencananya akan dilangsungkan akhir Februari ini di Bangka Belitung.
“Kami berharap Mbak Puan hadir bersama partai-partai yang
ada di DPR,supaya ada silaturahim partai-partai dengan umat Islam, seperti
pesan almarhum pak Taufiq Kiemas,” ujar Prof Dr H Noor Achmad. (yb/b2n/foto: ist)