MUARA TEWEH, banuapost.co.id– Jalur darat Muara Teweh menuju Lahei dan Luwe, Kecamatan Lahei Barat, Barito Utara, makin ramai. Namun kendalanya, jalan dan jembatan sering terendam.
Pantauan di lapangan beberapa waktu lalu, jalur dari
Lahei menuju Desa Luwe, sepanjang sembilan kilometer, relatif padat kendaraan
roda dua maupun roda empat setelah jalan mulus karena dicor rigid.
Warga yang memakai roda dua umumnya warga di desa-desa se
Kecamatan Lahei Barat dan warga beberapa desa di kecamatan Lahei. Sedang roda
empat mengangkut bahan sembako, material bangunan, kendaraan milik perusahaan
dan travel.
“Selama jalan kering dan jembatan tak tergenang air,
kami bisa angkut penumpang travel sampai ke Desa Luwe,” ujar Roby, seorang
sopir travel.
Sementara Sekdes Luwe Hulu, Joto, mengatakan, jalan
Lahei-Luwe menghubungkan dua kecamatan, merupakan satu-satunya akses jalan darat bagi kendaraan
roda empat. Adapun Jembatan Luwe, berada di perbatasan Desa Luwe Hulu dan Luwe
Hilir.
“Kendalanya saat banjir, jalan sepanjang 300 meter
dan Jembatan Luwe selalu tergenang air. Angkutan roda empat harus menunggu
sampai air surut baru bisa melintas. Sembako dilangsir lewat jalan
kampung,” jelas Joto.
Menurut Joto, jalan sepanjang 300 meter itu sudah
ditimbun sampai ketinggian dua meter. Tetapi begitu air surut, jalan yang
ditimbun tanah merah kembali hancur
karena dilewati kendaraan roda empat.
“Itu masalahnya. Kami sudah usulkan untuk perbaikan
secara permanen. Namun tergantung anggaran,” papar Joto.
Salah satu solusi, sambung Joto, melalui peninggian jalan
semacam fly over dan jembatan ditinggikan dengan konstriksi non kayu. Sedang dana
yang dibutuhkan, jelas besar. Sehingga tak mungkin dialokasikan melalui DD dan
ADD.
Jalan dan Jembatan Luwe sangat strategis, karena
menghbungkan dua kecamatan dengan Ibu Kota Kabupaten. Desa Luwe merupakan
tujuan antara, karena kendaraan roda empat banyak pula yang menuju Desa
Karendan dan Desa Haragandang, serta desa-desa lain di bagian hulu Sungai
Lahei. (arh/foto: ist)