JAKARTA, banuapost.co.id– Komplikasi menjadi penyebab utama paisen terpapar Covid-19 meninggal dunia. Jadi bukan karena faktor virus korona itu sendiri.
Virus korona akan memperburuk
daya tahan tubuh, sehingga menyebabkan peluang penyakit-penyakit dasar yang
sudah dimiliki, menjadi semakin parah.
”Tidak pernah kita
dapatkan meninggal karena korona virus. Selalu karena komplikasi. Beberapa
kasus yang kita pelajari dari beberapa negara, itu biasanya karena sepsis. Sepsis
itu infeksi keseluruhan di pembuluh darahnya dan sebagainya, yang disebabkan
karena bakteri. Bukan karena virusnya,” jelas juru bicara pemerintah untuk penanganan
virus korona, Achmad Yurianto.
Yuri, sapaan akrabnya, yang
juga Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kemenkes, membeberkan
itu menjawab pertanyaan awak media di Kantor Presiden, Rabu (11/3).
Daya tahan tubuh yang
jelek inilah, lanjut Yuri, yang kemudian bakteri semula tidak menimbulkan
penyakit akan menjadi masalah dengan tidak bisa dikendalikan populasinya. Sehingga
jadi masalah atau sepsis.
”Jadi bukan karena virus
korona sebagai penyebab utamanya. Tapi itu yang memperburuk kondisinya,” tandas
Yuri.
Begitupun ketika
disinggung soal zonasi, secara tegas dikemukakan yuri tidak perlu. Sebab virus korona
faktor pembawanya adalah orang, bukan daerah.
“Sehingga tidak memiliki
arti keterkaitan dengan sebuah daerah atau wilayah. Untuk itulah tidak akan
dibuat zonasi,” imbuhnya.
Diakui Yuri, selama ini
penjelasan yang diberikan tidak menyebut lokasi. Karena memang memiliki perbedaan,
misalnya malaria atau DBD, maupun
penyakit-penyakit yang ada basisnya. Covid-19 ini bergerak bersama pergerakan
orang.
Hingga saat ini, Dirjen P2P
menyampaikan pasien yang sudah dipulangkan lebih dari 20 orang di seluruh rumah
sakit (RS) di seluruh Indonesia.
“Tentunya enggak
semuanya positif. Tetapi itu yang sudah kita periksa. Kemudian yang 27
tracing-nya masih dilaksanakan terus. Sedang kontak dekatnya, keluarga dan
sebagainya, sudah beberapa kali kita periksa, hasilnya negatif,” ucap Yuri
seraya menambahkan, proses tracing ini memang sulit, tetapi harus
dilakukan. (yb/bgla/foto: ist)