BANJARMASIN, banuapost.co.id– Belajar tatap muka mulai disimulasikan di empat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Banjarmasin, Senin (16/11). Satu diantaranya, SMPN 7 Banjarmasin.
Namun dari seluruh siswa di SMPN 7 yang berjumlah 662 orang, 116 siswa tetap memilih belajar daring dari rumah.
“Belajar tatap muka ini berdasarkan hasil survei yang kami lakukan. Dari 662 siswa, 82,84 persen atau 543 orang tua setuju anaknya ikut belajar tatap muka. Sisanya memilih anaknya tetap belajar daring. Kemudian tiga orang tua siswa tidak menjawab survei tersebut,” ujar Kepala SMPN 7 Banjarmasin, Kabul.
Belajar tatap muka, lanjut Kabul, hanya sepertiga dari waktu belajar keseluruhan. Karena itu, siswa belajar tatap muka hanya dua hari dalam sepekan. Sisanya, siswa tetap belajar daring di rumah.
Selain itu, pembatasan lainnya dalam belajar tatap muka ini, setiap ruang belajar (rumbel) juga dibatasi minimal tujuh siswa dan maksimal 11 siswa. Normalnya setiap rumbel diisi 32 – 36 orang. Hal ini, menjaga jarak antar siswa di dalam kelas.
Sehingga murid yang setuju belajar tatap muka dibagi tiga shift. Setiap satu shift, belajar dua hari dalam sepekan. Misalnya, untuk yang belajar hari Senin ini, maka akan turun kembali pada Kamis nanti. Begitu pula yang masuk pada Selasa, akan ke sekolah lagi pada hari Jumat. Sedangkan hari Rabu turun kembali pada Sabtu.
Sedang jam belarnya, setiap harinya belajar tiga jam mulai pukul 08.00 – 11.00 Wita. Sementara waktu istirahat 15 menit. Namun hanya di dalam kelas. Dan kantin juga tidak dibuka. Siswa diwajibkan membawa bekal ke sekolah.
Menurut Kabul, belajar tatap muka dilakukan hanya untuk mengurai kesulitan siswa dalam memahami mata pelajaran ketika belajar daring.
“Apabila mereka kesulitan memahami pelajaran saat belajar daring, bisa ditanyakan saat belajar tatap muka,” imbuh Kabul.
Diakui Kabul, untuk mengikuti belajar tatap muka, siswa tidak diwajibkan mengikuti rapid maupun swab tes. Namun, siswa dan juga guru di sekolah ini, wajib mematuhi protokol kesehatan. Seperti memakai masker, menjaga jarak dan rajin cuci tangan.
“Bahkan kami menyediakan 50 tempat cuci tangan di sekolah ini,” jelas Kabul.
Setibanya di sekolah, siswa wajib mengikuti pemeriksaan suhu tubuh. Murid yang suhu tubuhnya tinggi, dilarang mengikuti belajar tatap muka dan kembali ke rumah untuk mengikuti belajar daring.
Para siswa, juga diwajibkan membawa alat tulis masing – masing. Jadi di dalam kelas, mereka dilakukan melakukan peminjaman atau tukaran alat tulis.
Seorang murid SMPN 7 Banjarmasin, Ikmal mengaku senang bisa kembali belajar tatap muka. Alasannya, bisa bertemu teman-teman dan para guru, setelah sembilan bulan hanya belajar daring di rumah.
“Waktu belajar di rumah, susah bertanya sama guru kalau ada yang tidak dipahami. Kalau di sekolah, bisa langsung ditanyakan,” ujar siswa kelas VIII ini.
Menurut Ikmal, sebelum ke sekolah, ia diingatkan orang tuanya untuk terus memakai masker dan menjaga jarak. Ikmal pun, mengaku dibekali orang tuanya hand sanitizer. “Harapannya, belajar tatap mukanya lancar. Dan pandemi Covid 19 cepat berlalu, agar sekolahnya kembali normal,” ujar Ikmal.
Sementara menurut Kepala Disdik Kota Banjarmasin, Totok Agus Darmanto, untuk pelaksanaan simulasi belajar tatap muka ini, pihaknya baru merekomendasikan empat SMP. Yakni, SMPN 7,SMPN 10, SMPN 12 DAN SMPN 31.
Dalam simulasi ini, ke empat SMP itu memilih dua pola yang berbeda. Ada yang memilih pola mengisi kapasitas rumbel 50 persen. Dan ada pula yang hanya 30 persen.
“Dari dua pola ini, akan kita evaluasi untuk diterapkan kedepannya,” ujar Totok usai memantau di SMPN 10 Banjarmasin.
Sekolah, lanjut Totok, akan membuat laporan setiap hari untuk proses simulasi belajar tatap muka ini. Apabila tidak ada masalah, maka akan dilanjutkan. (emy/foto: deny yunus)