RANTAU, banuapost.co.id– Begitu luasnya Bendungan Tapin di Desa Pipitak Jaya, Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin, tentu saja ada beberapa penduduk yang harus direlokasi. Bergesernya warga dari dam yang dibangun dengan anggaran Rp 986 miliar sejak 2015 lalu, jadi perhatian Presiden Joko Widodo.
Perhatian Kepala Negara terungkap ketika berdialog dengan warga Desa Pipitak Jaya, Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin, sebelum meresmikan bendungan tersebut, Kamis (18/2).
Berikut dialog Presiden Jokowi dengan warga yang direlokasi akibat pembangunan Bendungan Tapin ini:
“Saya enggak tahu, apakah relokasi itu sudah disiapkan tempatnya, rumahnya. Yang hadir di sini, Bapak-Ibu dulu tinggal di kanan kiri bendungan ini? Kemudian direlokasi ke mana? Berapa kilometer dari sini? Oh, dekat. Dulunya di… dulunya di sini? tanya presiden.
Warga: Iya Pak.
Presiden Joko Widodo: “Terus sekarang”?
Warga: “Sekarang sudah bikin rumah di bagian hilir, di dekat bendungan juga”.
Presiden: “Rumahnya disiapkan”?
Warga: “Siap”.
Presiden: “Pindahnya disiapkan rumah dan lahannya sudah”?
Warga: “Terus terang saja Pak, untuk rumah kami bangun sendiri Pak”.
Presiden: “Bangun sendiri. Tapi anggarannya dari mana? Pemerintah”?
Warga: “Ya dari hasil ganti rugi Pak”.
Presiden: “Oo hasil ganti rugi, iya…iya”.
Warga: “Ganti untung Pak, ganti untung. Bukan ganti rugi”.
Presiden: “Iya, iya, samalah. Jadi diberikan ganti rugi. Diberi ganti rugi kemudian dipakai untuk pindah”?
Warga: “Iya”.
Presiden: “Oke. Terus kenapa mau dipindah, direlokasi”?
Warga: “Kami berpikir bahwa orang tua kami dulu Pak sangat menderita. Dulu mau ke Rantau saja satu hari Pak, jalan kaki”.
Presiden: “Ke mana itu jalan kaki?”
Warga: ”Ke Kabupaten”.
Presiden: “Ke Kabupaten jalan kaki? Itu baru ke Kabupaten, belum ke Provinsi, ke Banjarmasin?”
Warga: “Belum ke Provinsi. Iya. Jadi kami ingin ada perubahanlah untuk masyarakat kami, untuk menyekolahkan anak-anak kami, untuk melanjutkan pendidikan anak-anak kami. Jadi kami berpikir, dengan adanya Bendungan Tapin ini kami sangat bersyukur Pak. Sangat bersyukur karena dapat mengubah kehidupan masyarakat kami yang ada di area bendungan ini Pak”.
Presiden: “Sekarang rumahnya lebih bagus atau lebih enggak bagus?”
Warga: “Lumayan Pak. Lebih bagus”.
Presiden: “Lumayan… lumayan bagus atau lumayan jelek?”
Warga: ”Bagus Pak”.
Presiden: “Nanti saya lihat loh”.
Warga: “Bapak bisa lihat di pinggir-pinggir jalan yang ada di sana”.
Presiden: “Oh, pindahnya hanya menggeser sedikit, gitu ya?”
Warga: “Ke bagian hilir Pak”.
Presiden: “Oke, setelah Bendungan ini jadi komentar Bapak, perasaan Bapak seperti apa?”
Warga: “Pertama kami sangat seperti bermimpi, Pak”.
Presiden: “Bermimpi gimana?”
Warga: “Bertemu dengan Bapak Presiden hari ini”.
Presiden (sembari tertawa): “Yang ditanyakan itu bendungan, kok mimpinya ketemu presiden”.
Warga: “Iya, iya, secara pribadi Pak. Saya sangat bangga Pak. Dengan adanya bendungan ini harapannya untuk kami masyarakat di sini tidak hanya untuk di area yang bagian hilir, tetapi kami juga mengharapkan tidak hanya sebagai penonton Pak. Tetapi kami ingin perubahan agar masyarakat diberdayakan melalui desa pariwisata yang ingin kami inginkan Pak. Karena terbuka usaha untuk masyarakat di sini”.
Presiden: “Ya. Saya lupa tadi. Ini fungsi setelah melihat kondisi keindahan di sekitar waduk ini benar, Bapak betul. Jadi ini bisa menjadi objek pariwisata, bukan hanya di Kabupaten Tapin tapi di Provinsi Kalimantan Selatan, benar, setuju”.
“Baiklah, Bapak-Ibu yang saya hormati. Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim hari ini saya resmikan Bendungan Tapin di Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan,” sambung Presiden Jokowi mengakhiri dialog. (oie/foto: setpres)
Klik tombol dibawah untuk melihat video terbaru kami. Kemudian refres laman ini.