PELAIHARI, Banuapost.co.id- Seorang kakek di Kampung Riam Pinang, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Selasa (5/3) membuat panik anak menantu dan warga setempat. Kakek berusia 84 tahun itu tidak pulang ke rumah setelah masuk ke sungai yang berada di belakang rumahnya.
Kakek bernama Suharyo itu meninggalkan rumah untuk buang air besar di sungai yang berada di antara Gunung Pewayangan dan Gunung Tanah Balu di Desa Tanjung, Kecamatan Bajuin.
Anak dan menantunya panik ketika sampai sekitar pukul 15.00 wita belum juga kembali, sementara seorang warga mengaku sempat melihat kakek tersebut di aliran Sungai Riam Pinang yang merupakan bagian dari daerah aliran sungai (DAS) Tabanio itu.
Pencarian serentak mulai dilakukan pada pukul 17.00 wita melibatkan komunitas Masyarakat Peduli Api (MPA) Wani Hangit, Kampung Riam Pinang, warga setempat serta anak dan menantu kakek Suharyo.
Menjelang Maghrib pencarian dihentikan sementara, setelah itu dengan menggunakan senter dan obor dari bambu anggota MPA Wani hangit dan warga kembali melakukan pencarian. Mereka berpencar ada yang menyisir aliran sungai sejauh sekitar 3 kilometer dan sebagian menembus punggung gunung.
Namun upaya yang dilakukan tim tidak membuahkan hasil, sampai akhirnya istirahat pada Rabu (6/3) sekitar pukul 03.00 wita.
Sementara Ardani, anak kakek Suharyo, tidak dapat tidur memikirkan nasib orangtuannya, pagi-pagi sekitar pukul 04.30 ia bersama suaminya dan seorang adiknya kembali masuk hutan.
Sama seperti pencarian sebelumnya, sekitar 3 jam melakukan pencarian kakek Suharyo belum juga ditemukan. Ardani dan adik serta suaminya kemudian berpencar, Ardani kebagian menyisir sungai.
Sekitar pukul 08.00 wita, tiba-tiba Ardani melihat sesuatu di tengah sungai dangkal itu, sadar yang dilihatnya orang tuanya, ia pun berteriak sambil mendekati sang ayah yang sedang mencuci baju yang digunakan selama menghilang.
“Tanpa sadar saya langsung berteriak dan berlari mendekati ayah saya,” kata Ardani saat dikonfirmasi. Rabu (6/3).
Padahal menurut Ardani ia dan adiknya serta sang suami sudah berkali-kali melintas di lokasi ia menemukan ayahnya itu. Lokasi ditemukan ayahnya itu berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah.
“Hampir tidak masuk akal, karena tempat ayah saya ditemukan sudah beberapa kali kami lewati,” kata Ardani yang mengaku senang ayahnya sehat-sehat saja.
Kakek Suharyo ketika ditanya mengaku sudah sering pergi ke hutan di belakang rumahnya itu, hanya saja apa yang diungkapkan Suharyo cukup membingungkan warga.
Menurut Suharyo ia senang masuk kedalam hutan karena banyak hewan seperti kancil dan babi, serta ikan yang besar-besar di dalam sungai dangkal itu.Ia mengaku selama berada di dalam hutan tidak tidur.
“Kalau malam memang terasa sepi, tapi kalau pagi ramai sekali,” kata Suharyo yang tangannya masih terlihat pucat akibat kedinginan.
Nur Kholiq, Ketua MPA Wani Hangit mengatakan, ia dan anggotanya diberitahu hilangnya kakek Suharyo sekitar pukul 17.00 wita, dan bersama anggota MPA serta warga setempat langsung melakukan pencarian.
“Cukup membingungkan juga bagaimana kami yang jumlahnya puluhan orang tidak berhasil menemukan Pak Suharyo, padahal sudah menyisir aliran sungai dan punggung gunung,” kata Kholiq (zkl/foto: zul)