J
JAKARTA, banuapost.co.id–
Dua tokoh nasional yang sempat menjadi rival dalam pilpres lalu, Joko Widodo
dan Prabowo Subianto, mengajak rakyat untuk merajut kembali persatuan sebagai
saudara se bangsa dan se tanah air.
Ajakan kedua tokoh ini tentunya sangat beralasan, karena
kontestasi pilpres telah berakhir. Bahkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pun telah
resmi menetapkan pasangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin sebagai presiden dan wakil
presiden terpilih periode 2019-2024 melalui rapat pleno, 30 Juni lalu.
“Setelah pilpres usai, silaturahmi antara saya dan Pak
Prabowo bisa kita lakukan pada pagi hari ini. Alhamdulilah, sekali lagi sebagai
sahabat, kawan, dan saudara,” kata Presiden Jokowi saat bertemu dengan Prabowo
Subianto di Stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Lebak Bulus, Sabtu (13/7).
Jokowi mengaku sangat berterima kasih atas pengaturan,
sehingga bisa bertemu dengan Prabowo, dan berharap agar para pendukung juga
melakukan hal yang sama karena saudara se bangsa dan se tanah air.
Tak ada lagi cebong dan kampret
Baik Presiden Jokowi maupun Prabowo berharap, pertemuan bisa ditiru pendukung masing-masing, dan membuat mereka bersatu kembali tanpa ada istilah ‘cebong’ serta ‘kampret’ untuk masing-masing pendukung.
“Tidak ada lagi yang namanya 01. Yidak ada lagi yang
namanya 02. Tidak ada lagi yang namanya ‘cebong’. Tidak ada lagi yang namanya
‘kampret’. Yang ada adalah garuda. Garuda Pancasila,” tegas Jokowi.
“Marilah kita rajut, kita gerakkan kembali,
persatuan kita sebagai sebuah bangsa. Karena kompetisi global dan antarnegara
sekarang ini, semakin ketat. Sehingga memerlukan sebuah kebersamaan dalam
membangun negara yang kita cintai,” tambah presiden.
Prabowo Subianto pun mengungkapkan hal yang senada.
Walaupun pertemuan seolah-olah tidak formal, menurut Prabowo, pertemuan
tersebut memiliki suatu dimensi dan arti yang sangat penting.
“Ada yang bertanya kenapa Pak Prabowo belum ucapkan
selamat atas ditetapkannya Pak Jokowi sebagai Presiden 2019 2024. Saya katakan
saya ini bagaimana pun ada ewuh pekewuh,
ada toto kromo. Jadi kalau ucapan
selamat maunya langsung tatap muka,” ungkap Prabowo.
Prabowo sepakat, ia dan Presiden Jokowi adalah sahabat.
Meski keduanya bersaing saat berkontestasi di Pilpres 2019, atau pun saat ia
melontarkan kritik, hal tersebut menurutnya adalah tuntutan politik dan
demokrasi.
“Jadi kalau kita kadang-kadang bersaing,
kadang-kadang saling mengkritik, itu tuntutan politik dan demokrasi. Tetapi
sesudah berkompetisi dan bertarung dengan keras, kita tetap dalam kerangka
keluarga besar Republik Indonesia. Kita sama-sama anak bangsa, kita sama-sama
patriot, dan sama-sama ingin berbuat terbaik untuk bangsa,” tuturnya.
Prabowo berujar, ia paham jika banyak hal yang masih harus
diperbaiki. Tetapi menurutnya, jika di antara pemimpin memiliki hubungan yang
baik, maka mereka bisa saling mengingatkan.
“Kalau beliau mau ketemu saya, ya saya akan
manfaatkan untuk menyampaikan hal-hal demi kebaikan bersama. Jadi saya ucapkan
selamat bekerja. Menjadi presiden itu mengabdi. Masalah yang dipikul besar.
Kami siap membantu kalau diperlukan. Mohon maaf kalau kita mengkritisi bapak
sekali-sekali,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut Presiden Jokowi tampak
didampingi Sekretaris Kabinet, Pramono
Anung, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, dan Kepala Badan Intelijen
Negara (BIN), Budi Gunawan.
Tampak hadir juga Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN)
Jokowi-Ma’ruf, Erick Thohir dan Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad
Muzani. (yb/din/foto: setneg)
