TANGERANG, banuapost.co.id– Presiden Joko Widodo memastikan, penanganan wabah virus korona atau Covid-19 yang telah menjadi pandemi (menyebar di wilayah yang luas), terus menjadi perhatian pemerintah.
Pemerintah terus berusaha keras mengatasi virus korona
yang tidak mengenal batas negara, dengan tanpa menimbulkan kepanikan di
masyarakat.
Hal tersebut disampaikan presiden dalam keterangan
persnya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat (13/3). Sebelumnya,
Rabu (11/3), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan virus korona sebagai pandemi.
“Pemerintah sekali lagi, tanpa henti mengupayakan
peningkatan kesiapan dan ketangguhan negara kita dalam menghadapi pandemi in. Ini
bukan epidemi, tapi sudah pandemi,” katanya.
Langkah-langkah serius, sambung presiden, telah diambil.
Tetapi juga di saat yang bersamaan, tidak ingin menciptakan rasa panik. Tidak
ingin menciptakan keresahan di tengah masyarakat.
“Oleh sebab itu dalam penanganan, kita memang tidak
bersuara. Kita semuanya harus tetap tenang dan berupaya keras menghadapi
tantangan ini,” jelasnya.
Gerak cepat pemerintah dalam menangani wabah virus korona,
lanjut Kepala Negara, misalnya saat menangani pasien 01 dan 02, di mana dalam
tempo singkat pemerintah sudah mengantongi nama-nama dalam satu klaster dengan
keduanya.
“Dalam 2 hari saya sudah mendapatkan 80 nama yang
berada di klaster ini dari tim reaksi cepat yang kita miliki, Kementerian
Kesehatan dibantu intelijen BIN, dibantu intelijen di Polri. Tetapi kita juga
tahu, virus ini juga memiliki kecepatan yang sangat cepat dalam
penyebarannya,” ungkapnya.
Menurut Presiden, tindakan pencegahan dan mitigasi juga
harus dilakukan secara bersamaan. Pemerintah telah dan akan terus melakukan
contact tracing atau pelacakan terhadap siapapun yang kontak dengan pasien
positif Covid-19.
Mengenai pelacakan dari klaster yang pertama dan kedua,
menurut presiden, juga membuahkan hasil. Dari 80 turun ke 20, turun ke 10,
kemudian kita bisa melacak ada 4 dari klaster itu yang positif Covid-19,”
ujarnya.
Pengawasan dan isolasi pasien terduga Covid-19, juga
terus dijalankan. Pemerintah juga telah membentuk tim reaksi cepat yang
dipimpin Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo. Tim
ini telah disiagakan di rumah sakit tipe A.
“Begitupun untuk menjaga pintu negara, kita memiliki
135 pintu gerbang, baik di darat, di pelabuhan, di laut, maupun di airport. Ini
protokol keamanan, protokol kesehatan, juga diterapkan seperti tadi yang saya
lihat,” ucapnya.
Sementara terkait langkah mitigasi, pemerintah juga terus
menyiapkan dan menambah rumah sakit rujukan untuk pasien Covid-19. Dari
sebelumnya 100 rumah sakit, menjadi 132 rumah sakit. Pemerintah juga
menambahnya dengan 109 rumah sakit TNI, 53 rumah sakit Polri, dan 65 rumah
sakit BUMN.
“Termasuk di sini pembangunan fasilitas observasi
dalam skala besar di Pulau Galang. Kita harapkan minggu depan telah bisa kita
selesaikan dan akan saya cek langsung. Kita juga tahu yang sembuh juga sudah
ada, yaitu 5 orang yang dulu positif di Diamond Princess, kemudian 2 yang
berada di rumah sakit di Indonesia dan 1 orang WNI kita yang berada di
Singapura,” ujarnya.
Di penghujung keterangannya, Kepala Negara juga mengajak
seluruh masyarakat untuk terus menjaga kesehatan diri, dengan menerapkan gaya
hidup sehat serta menyatukan tekad dan dukungan dalam melawan wabah virus
korona.
“Saya mengajak seluruh komponen bangsa, elemen
bangsa, menyatukan upaya serta tekad melawan virus korona ini. Saya percaya,
setiap dari kita bisa memainkan peranan penting bersama-sama menghadapi
tantangan ini,” tandasnya. (yb/din/foto:
setneg)