JAKARTA- Memiliki luas wilayah 37.000 meter persegi dengan potensi alam mempesona, Kalsel diyakini akan menjadi daerah berkembang dan lebih maju.
Kebijakan Pemprov Kalsel dalam mengembangkan kepariwisataan menggeser kontribusi sektor pertambangan sebagai sumber daya alam yang tak terbarukan, dinilai solusi tepat dalam upaya meningkatkan pendapatan daerah.
Penilaian ini diutarakan Bambang Sapto Pratomosunu, pembimbing H Abdul Haris Makkie, usai Seminar Laboratorium Kepemimpinan Peserta Diklatpim TK I Angkatan XXXVIII, di Graha Wisesa Pusdiklat Kepemimpinan Aparatur Negara, Senin (2/7).
Widyaiswara Lembaga Administrasi Negara (LAN) ini mengaku sangat mengapresiasi kebijakan Pemprov Kalsel yang menjadikan sektor pariwisata masuk dalam salah satu sektor pembangunan prioritas dari 13 sektor yang telah ditetapkan,
“Saya yakin, jika sektor kepariwisataan dikelola secara profesional, terpadu dan berbasis masyarakat maka Kalsel akan menjadi daerah berkembang dan lebih maju,” tandasnya.
Menurut Bambang, program inovasi Abdul Haris dengan Judul Pengembangan Pariwisata Terpadu Berbasis Masyarakat, jika berhasil diimplementasikan akan memberikan multi efek bagi kemajuan pariwisata daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Sementara Abdul Haris dalam presentasinya menjelaskan, salah satu latar pemikiran pengembangan kepariwisataan terpadu berbasis masyarakat, karena masih kurang terpadunya pengelolaan antar stakeholder dan minimnya keterlibatan masyarakat secara langsung.
Latar pemikiran lain, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB sangat rendah. Terbukti berdasarkan data sampai 2017, sektor ini hanya menyumbang sebesar 1, 97 persen dari total PDRB Kalsel.
“Alhamdulillah, Kalsel telah memiliki Pergub No 32/2018, tentang Pembangunan Destinasi Pariwisata sebagai regulasi memantapkan pembangunan kepariwisataan,” ujarnya, seraya menambahkan, lahirnya pergub merupakan implementasi dari program inovasi diklatpim. (bdm/fah/foto: hum)