PELAIHARI, banuapost.co.id– Hingga Jumat (4/9) siang, pemukiman warga di enam desa di Kecamatan Kintap, Tanah Laut, masih terendam. Namun ketinggian air berkurang dibanding saat hari pertama, Kamis (3/9), mulai menggenangi pemukiman warga akibat meluapnya Sungai Kintap.
Ratusan rumah yang terendam di enam desa, yakni Kintapura dengan jumlah 326 rumah, Kintap sebanyak 169, Kintap Kecil 104, Riam Adungan 111, Salaman 73 rumah. Total ada 783 rumah yang didiami 848 KK dengan 2.494 Jiwa.
Menurut Camat Kintap, Eko Tri Anto, banjir kali ini merupakan yang ketiga kalinya terjadi 2020 ini. Setiap tahun, kelima desa tersebut menjadi langganan banjir.
“Tapi tahun-tahun sebelumnya cuma satu kali dalam setahun. Berbeda dengan tahun ini, sudah tiga kali terjadi,” tandas Eko.
Untuk penyebab banjir, menurut Eko, akibat curah hujan tinggi terjadi sejak Rabu (2/9) malam hingga Kamis (3/9). Selain itu, diduga terjadi air pasang di laut. Sehingga Sungai Kintap yang dekat dengan pemukiman warga meluap.
Terkait dugaan banjir dampak dari kerusakan lingkungan akibat pertambangan di sekitar enam desa itu, Eko mengaku tidak bisa memastikan.
“Kami tidak bisa menjawab hal tersebut. Karena terkait pertambangan merupakan kewenangan pemerintah provinsi,” katanya.
Menurut Eko, karena menjadi langganan banjir, awal tahun ini pihaknya meminta alat peringatan dini dari BNPB. Pada banjir kali ini, alat yang menggunakan teknologi solar cell itu berfungsi. Sehingga saat banjir melanda, upaya evakuasi warga bisa cepat dilakukan.
“Bersama aparat kepolisian dan TNI serta relawan dan juga BPBD, kami melakukan evakuasi korban banjir. Khususnya lansia, perempuan dan anak-anak. Sedang laki-laki, memilih bertahan menjaga rumah mereka. Guna membantu para korban, dibuka empat dapur umum,” jelas Eko. (emy/foto: deny yunus)