PELAIHARI– Lahirnya kreativitas dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, meski terkungkung terali besi sekalipun. Jadi jangan heran apabila banyak kreasi yang tercipta dari tangan terampil para narapidana.
Banyak orang berpendapat mana bisa kita berkarya dalam tempat sesempit dan se-terisolir seperti penjara. Padahal yang membuat pikiran kita terkukung dan hati kita terkurung, bukanlah penjara. Tapi memang nyali dan jiwa kita saja yang dha’if.
Warga binaan Rutan Pelaihari dalam mengisi waktu luangnya membuat miniatur kapal layar dari stik es krim dan koran bekas.Kapal layar dari koran bekas memiliki kesulitan yang cukup rumit, tapi hasil jadinya memuaskan.
Menurut Karutan Pelaihari, Budi Suharto, Kamis (13/9), karena di rutan banyak barang-barang bekas yang bisa di manfaatkan sebagai kerajinan tangan.
Kondisi demikian tidak hanya membantu dalam membereskan barang bekas tersebut, namun juga bisa memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-hari sebagai bekal pengetahuan sekembaliya mereka kemasyarakat kelak.
“Tidak hanya miniatur kapal layar saja, warga binaan perempuan juga tak mau kalah menampilkan kreativitasya. Mereka membuat tas tangan, dompet serta asesoris dan lain-lain “,jelas Budi Suharto.
Diakui Budi Suharto, kendala terbesar bagi warga binaan adalah masalah pemasaran sangat terkandala. Karena itu sangat mengharapkan perhatian pemerintah, dalam hal ini dinas sosial, juga dekranasda agar bisa menampung dan membantu memasarkan semua kerajinan hasi karya warga binaan yang ada di Rutan Pelaihari.
Rutan dan Lapas bukanlah tempat berkumpulnya orang yang jahat. Sisi baik setiap manusia pastilah ada, mendekatkan diri kepada sang pencipta bisa membuat diri menjadi tenang.
“Iman yang kuat tentu saja menjauhkan diri dari perbuatan negative, di tambah mereka dibekali dengan pelajaran yang lebih bermanfaat,” tegas Budi Suharto. (*/zkl/footo: hum)