BANJARBARU, banuapost.co.id–
Kucuran dana desa sejak 2016 hingga 2018,
mampu menurunkan jumlah desa sangat tertinggal dan desa tertinggal di Kalsel.
Bahkan berkat dana desa, dapat menurunkan gini ratio
(tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk) di Kalsel, hingga di perdesaan
kondisinya lebih baik lagi.
“Kita bersyukur, tingkat ketimpangan pengeluaran
penduduk (gini ratio) Kalsel terus mengalami penurunan sejak 2016 sampai tahun
2018. Bahkan di perdesaan lebih baik lagi,” tandas Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor, pada
Konsolidasi dan Sinergitas antara Pemprov Kalsel, Kab/Kota, hingga Desa di
Gedung Idham Chalid, Kamis (14/3).
Dijelaskan Paman Birin, sapaan akrab Gubernur Kalsel itu,
di perdesaan sejak September 2016 hingga September 2018, gini rasio terus
mengalami penurunan. Dari 0,298 menjadi 0,279 atau turun 0,019 poin.
“Angka ini menggambarkan kondisi ketimpangan di daerah
pedesaan lebih baik dibandingkan daerah perkotaan,” jelasnya.
Dihadapan ribuan Kepala Desa, Paman Birin juga berpesan
agar pelaksanaan pesta demokrasi, 17 April mendatang, dapat dilaksanakan dengan
baik dan penuh kegembiraan.
“Pesta demokrasi sejatinya harus membahagiakan,
sebagaimana makna dari pesta. Harus membahagiakann dan menggembirakan,” katanya.
Lagi-lagi, Paman Birin mengajak seluruh kades, lurah, dan
camat, untuk melawan hoax. Karena tidak sesuai dengan sifat dari masyarakat
Kalsel yang dikenal religius.
Sementara Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
Prov Kalsel, Drs Zulkifli, secara rinci menjelaskan, bukti dari hasil
pembangunan desa, yaitu menurunnya jumlah desa tertinggal di Kalsel dari 254 di
2016 menjadi 89 di 2018.
Kemudian desa tertinggal dari 1184 menurun jadi 863, desa
berkembang meningkat dari 409 menjadi 863, dan desa maju juga meningkat dari 16
menjadi 53.
Ditambahkan Zulkifli, untuk menjembatani ketimpangan
antara wilayah pedesaan dan perkotaan, pemerintah telah menjalankan amanat UU
No 6/2014 tentang Desa Melalui Dana Desa.
“Di Kalsel, pagu dana desa terus mengalami kenaikan. 2015
dana desa sejumlah Rp501,12 miliar terus naik hingga Rp1,33 triliun di 2018,” jelasnya.
(rny/bdm/foto: hum)
