SUNGAI BATANG– Gempa yang menerpa Lombok, Nusa Tenggara Barat, sejak 29 Juli lalu, praktis membuat banyak aktifias warga terganggu. Bahkan terhenti, termasuk proses belajar mengajar di sekolah.
Kondisi ini juga dialami belasan bocah yang ikut orangtua mereka mengungsi di Desa Sungai Batang, Martapura Barat, Kabupaten Banjar, sepekan terakhir.
Salah satunya Vivi, siswa kelas lima SD ini. Menurutnya, bangunan sekolahnya di Desa Teko, Kecamatan Peringgabaya, Lombok Timur, banyak mengalami retak, sehingga sekolah diliburkan.
“Sudah dua bulan tidak sekolah,” kata bocah perempuan 11 tahun ini, ketika ditanya kapan terakhir kali pergi ke sekolah.
Vivi mengaku ingin sekali bersekolah. Termasuk saat di pengungsian seperti sekarang ini. Apalagi kini ia sudah punya peralatan sekolah, seperti tas, buku dan alat tulis, bantuan dari Dinas Pendidikan Kalsel.
Bantuan ini diserahkan Kadis Pendidikan Kalsel, M Yusuf Effendi. Selain member bantuan, Yusuf juga mengaku sudah berkoordinasi dengan Disdik Kabupaten Banjar, agar bocah-bocah pengungsi ini dititipkan di sekolah terdekat lokasi mereka mengungsi, kawasan transmigrasi Desa Sungai Batang.
“Kita sedang mengupayakan menitipkan mereka di sekolah terdekat sesuai jenjang pendidikannya. Karena dari 13 anak ini, ada yang TK, SD, SMP dan SMA,” jelas M Yusuf.
Untuk perlengkapan sekolah, seperti seragam, nantinya juga diupayakan untuk dimaklumi. Sehingga bila mereka tidak memiliki seragam sesuai sekolahnya, tidak dipermasalahkan.
“Yang terpenting, mereka tetap bisa sekolah, agar tidak ketinggalan mata pelajaran dan bisa mengurangi trauma mereka atas bencana yang dialami,” imbuh Yusuf. (emy/foto: deny yunus)