BANJARMASIN– Sandar di Pelabuhan Trisakti usai menuntaskan misi kemanusiaan, pergeseran pasukan dan material di Palu, Sulteng, Kamis (3/1) sore, KRI Dr Soeharso terbuka untuk dikunjungi.
Selama satu hari, Jumat (4/1), sebelum kembali ke pangkalannya di Surabaya, Jawa Timur, kapal bantu rumah sakit ini memberi kesempatan kepada masyarakat untuk berkunjung.
Sebelumnya, sebanyak 53 personel Denzipur 8/Gawi Manuntung, pasukan Satgas Bencana Alam Sulteng yang terakhir diangkut KRI Dr Soeharso setelah menuntaskan misi kemanusiaan di provinsi yang dilanda gempa, tsunami serta likuifaksi atau pengerakan tanah.
Pasca bertolak dari Palu, Senin (31/12) lalu, kapal perang ini singgah di Balikpapan, Kaltim, menurunkan 230 personel Yonzipur 17/Ananta Dharma.
Total di misinya yang terakhir sebelum kembali ke pangkalannya di Surabaya, Jatim, KRI Dr Soeharso mengangkut 283 personel serta sejumlah material, seperti kendaraan dan alat berat.
Kamandan KRI Dr Soeharso, Letkol (P) Joko Setyono, yang diminta konfirmasinya soal open ship di kapal perang itu, membenarkan.
“Open ship kami gelar sejak Jumat pagi untuk memberikan kesempatan kepada orangtua yang ingin mengajak anak-anaknya berwisata sambil mengenal lebih dekat dengan salah satu kapal perang milik Indonesia,” jelas Joko.
KRI Dr Soeharso merupakan kapal perang jenis amfibi buatan Korea Selatan 2003 yang dijadikan kapal bantu rumah sakit. Memiliki panjang 122 meter, kapal ini dilengkapi dengan sejumlah ruangan layaknya rumah sakit, termasuk ruang bedah dan rawat inap.
Meski dijadikan rumah sakit bantu, kapal ini dilengkapi dua pucuk meriam 20 milimeter untuk penangkis serangan udara. Selain itu, kapal juga mampu mengangkut 14 unit truk atau tank dengan bobot 8 ton, 2 helikopter super puma, 2 unit landing craft tipe 23 meter dan 1 hovercraft.
Sementara nama Dr Soeharso yang diabadikan untuk kapal perang ini, merupakan seorang doter orthopedi atau ahli bedah tulang yang banyak berjasa selama masa perjuangan kemerdekaan. (emy/foto: iman)