BANJARMASIN– Sebanyak 53 personel Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) 8/Gawi Manuntung (GM) yang tergabung dalam Satuan Tugas Bencana Alam di Sulteng, menuntaskan misi setelah tiga bulan berada di provinsi yang sebagian besar wilayahnya porak poranda dilanda gempa bumi. tsunami dan likuifaksi atau pergerakan tanah.
Denzipur 8/GM merupakan detasemen Zeni organik Kodam VI/Mulawarman. Markas satuan ini terletak di Jl A Yani Km.30,5, Banjarbaru.
Pasukan ini pulang diangkut KRI Dr Soeharso 990 dan sandar di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kamis (03/01) sore. Kepulangan disambut Kasrem 101/Antasari, Letkol Inf Rudi Namsyah.
Selain kasrem, sejumlah tamu undangan lainnya yang berhadir menyambut pasukan dalam misi kemanusiaan itu, Dansat Brimob Polda Kalsel, Kombes Pol Daulay, Danlanal Banjarmasin, Kolonel (P) Wijayanto, serta Kepala BPBD Kalsel, Wahyuddin, yang mewakili Gubernur H Sahbirin Noor.
Menurut Letkol Inf Rudi Namsyah, dibanding pasukan kodam lainnya yang juga diterjunkan ke Sulteng, Satgas Bencana Alam dari Denzipur 8/GM ini waktu tugasnya lebih lama.
“Karena mereka membawa alat bor air yang sangat diperlukan di lokasi bencana,” jelas Rudi.
Pasca kepulangan ini, sambung Rudi, bila diperlukan para pasukan bakal menjalin pemeriksaan kesehatan. Karena kondisi di Sulteng, khususnya di awal pasca bencana akibat banyaknya jenazah, bisa berdampak bagi kesehatan.
Disinggung tugas lain di daerah di Indonesia yang juga mengalami bencana, diakui Rudi belum ada perintah. Namun semua siap bila diperlukan.
Selama di Sulteng, Denzipur 8/GM bergabung dengan pasukan Yonzipur 17/Ananta Dharma, Balikpapan yang juga pasukan bagian dari Kodam VI Mulawarman.
Seperti personel Denzipur 8/GM, pasukan Yonzipur 17/Ananta Dharma yang bertugas di Sulteng sebanyak 230 orang, juga telah dipulangkan dengan KRI Dr Soeharso 990 yang bertolak dari Palu sejak 31 Desember 2018 lalu.
Sementara menurut Komandan Kompi (Danki) yang memimpin personel Denzipur 8/GM ini, Lettu MD Yunus, selama tiga bulan di Sulteng mereka terlibat pembuka jalan daerah terisolir di 12 titik. Kemudian membangun 152 toilet di Palu, Donggala dan Sigi.
Selain itu, mereka juga membangun 8 kelas dan 26 kelas darurat. Serta membersihkan rumah ibadah, salah satu kampus dan pembersihan di daerah yang terdampak likuifaksi di Balaroa dan Petobo.
“Waktu awal kedatangan, kami dilibatkan evakuasi jenazah saudara – saudara kita yang meninggal dunia akibat bencana di sana,” kata Yunus.
Kini, lanjut Yunus, kondisi di Palu, Sigi dan Donggala sudah berangsur normal. “Saat ini sudah tinggal tugas dari pemerintah daerah untuk melakukan penataan,” katanya. (emy/foto: iman)