BANJARBARU, banuapost.co.id–
Jika Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia pindah ke Kalimantan Selatan, maka akan
terjadi lonjakan penduduk.
Lonjakan penduduk itu dikemukakan Dosen Fakultas Ilmu
Sosial dan Pemerintahan ULM, Taufik Arbain, dalam Dialog Nasional Kalimantan
untuk Indonesia yang digagas Kementerian PPN/Bappenas di sebuah hotel di
kawasan Jl A Yani, Banjarbaru, Senin (15/7).
Taupfik Arbain mengupas persoalan pindahnya IKN Indonesia
tersebut dari aspek budaya, demografis, sosiologis, dan antropologis.
“Jika ibu kota pindah ke Kalsel, maka akan ada 1,5 juta
penduduk yang menghuni di ibu kota baru ditambah 4,2 juta penduduk Kalsel, maka
total 5,7 juta jiwa,” ujar Taufik.
Karena itu, sambung Taufik, perlu disiapkan wilayah yang akan
dihuni berapa penduduk, termasuk migration effect-nya.
Terkait apakah masyarakat Banjar terbuka, ditegaskan
Taufik, tidak ada fakta atau data yang menunjukkan konflik yang besar.
“Mereka tidak merasa dalam kondisi yang tidak berdaya.
Sebab semua lini kekuasaan politik dan ekonomi, hampir merata dipegang para
tokohnya,” ucap Taufik.
Rasa keterwakilan masyarakat Kalsel terhadap
tokoh-tokohnya, lanjut Taufik, menimbulkan rasa telah direpresentasi. Begitupun
dengan masyarakat menengah ke bawah, juga tidak ada rasa akan terpinggirkan.
“Terkait pengalaman sosial kebudayaan, mereka paham saat berada
di tempat orang, maka mereka diterima. Begitupun saat berada di tempat mereka,
maka kita diterima mereka. Jadi tidak perlu takut apakah nanti akan
mendegradasikan wilayah keagamaan dan adat mereka,” jelasnya. (emy/foto: ist)
