PALANGKA RAYA, banuapost.co.id–
Mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalteng yang kian
parah, masyarakat harus dilibatkan.
Tanpa keikutsertaan masyarakat, pekerjaan akan semakin
berat mengingat jumlah personel BNPB yang juga terbatas.
“Karena itu, jangan sampai kondisi karhutla semakin
parah. Sebab dampaknya, kita semua yang merasakan,” ujar tokoh pemuda Kalteng, H
Heru Hidayat, Rabu (11/9).
Menurut mantan anggota DPRD Kalteng itu, peran pemerintah,
TNI, Polri, BPBD, dan relawan pemadam kebakaran lainnya, sangatlah berarti.
Namun keterbatasan personil dan luasnya wilayah yang ada
di Kalteng, mau tidak mau harus mengikutsertakan partisipasi masyarakat.
“Tujuannya agar masyarakat tergugah dengan kondisi yang
ada, yang notabene ikut mengganggu aktivitas mereka juga. Sehingga menjadi
bagian dari pengawasan melekat di tengah-tengah masyarakat,” jelas Heru.
Dengan kondisi yang kian parah ini, sambung Heru,
pemerintah daerah maupun MUI-nya perlu juga menggelar salat Istisqo bagi muslim,
dan doa bagi seluruh umat beragama yang ada.
“Karena selain upaya pemadaman terus dilakukan, berdoa
adalah bagian yang sangat penting untuk bisa memohon turunnya hujan,” imbuh
Heru.
Sebab belajar dari pengalaman sebelumnya, lanjut Heru, yang
akan bisa mengatasi kebakaran lahan dan hutan, selain upaya pemadaman juga dengan
berdoa.
Sedang untuk pemilik lahan, selain diberi sanksi tegas,
juga dituntut tanggungjawab dan kepeduliannya untuk menjaga dan mengontrol.
“Pemda bisa memberi sanksi sosial kepada pemilik lahan
yang terbakar karena lalai dalam mengawasi dan menjaga lahannya,” pungkas Heru.
(sut/foto: ist)
