JAKARTA, banuapost.co.id–
Jika berbagai pihak meragukan keberadaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)
dalam Kabinet Indonesia Maju, sebaliknya Presiden Jokowi memiliki harapan dan
rasa optimisme iakan kemajuan yang hendak dicapai.
Mas Menteri, begitu sapaan yang diberikan Presiden Joko
Widodo kepada salah satu menterinya di Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Makarim, dipercaya
sebagai mendikbud.
Hal itu disampaikan presiden saat menjawab pertanyaan dalam acara dialog bersama para jurnalis yang
biasa meliput kegiatan presiden di Istana Merdeka, Jumat (1/11).
Mulanya, presiden ditanyakan mengenai pertimbangannya
menempatkan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Padahal
banyak yang memperkirakan, Nadiem akan ditempatkan pada pos kementerian yang
membidangi pemuda atau sejenisnya.
Presiden menjawab, dirinya ingin melakukan pendekatan
yang berbeda di dunia pendidikan. “Kita ingin melakukan sebuah pendekatan
yang berbeda, karena dunia berubah begitu cepat. Disrupsi teknologi ini harus
disikapi, dan oleh sebab itu diperlukan orang yang bisa cepat merespons
perubahan itu. Tidak yang menjalankan rutinitas atau monoton,” kata presiden.
Kepala Negara memandang, untuk mendobrak rutinitas dan
menghasilkan lompatan kemajuan dalam pendidikan nasional, dibutuhkan figur yang
meski tidak memiliki latar belakang dalam dunia pendidikan. Namun berani
mendobrak hal-hal yang monoton.
Nadiem, dengan Go-Jek sebagai portofolio perusahaan
rintisan teknologi yang sebelumnya ia dirikan, dianggap sebagai figur yang
telah memberikan contoh bagaimana lompatan kemajuan itu dilahirkan dengan
memanfaatkan teknologi.
Bila sebelumnya lompatan kemajuan dilahirkan dalam sektor
layanan transportasi publik, maka presiden berharap lompatan serupa dapat
diterapkan dalam dunia pendidikan di Tanah Air.
“Saya sudah hitung. Dalam mengelola manajemen besar,
memang harus memakai yang namanya teknologi. Tanpa kita menggeser tujuan dari
pendidikan kita, yaitu membangun karakter bangsa, membangun jati diri bangsa,
tanpa keluar dari itu. Ini keinginan kita, ada sebuah cara sehingga kecepatan
perubahan itu betul-betul bisa kita antisipasi,” ujarnya.
“Siapa yang sudah terbukti menguasai seperti itu? Ya
beliau itu. Sudah kok, sudah membuktikan kok. Bisa enggak dari situ dibawa ke
dunia pendidikan? Ini yang mau kita buktikan,” imbuhnya.
Meski demikian, perubahan besar semacam itu disadari presiden
membutuhkan upaya dan ketekunan yang keras. Lompatan kemajuan, juga memerlukan
waktu untuk dapat dirasakan kehadiran atau manfaatnya.
“Beliau sudah menyampaikan pada saya, bisa Pak, tapi
beri waktu saya. Ya saya beri waktu boleh. Kita lihat nanti. Saya tidak mau
rutinitas, intinya itu,” tuturnya.
Presiden sendiri sudah meminta mendikbud untuk terlebih
dahulu berkeliling Indonesia dan menyaksikan sendiri bagaimana lingkungan
pendidikan yang selama ini berjalan, khususnya di luar Pulau Jawa.
Sebaran wilayah Indonesia yang memang cukup luas,
memberikan tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam memastikan akses dan
kualitas pendidikan yang merata di Tanah Air.
“Kemarin sudah saya perintah, tolong lihat juga di
NTT yang pelosok, di Maluku yang pelosok, di Papua yang juga di pelosok,
perbedaannya kayak apa, pendekatannya nanti kayak apa,” ucapnya.
Maka itu, presiden mengajak seluruh pihak untuk
memberikan dukungan dan waktu yang luang bagi mendikbud untuk dapat merumuskan
perubahan atau kemajuan apa yang pas untuk diterapkan dalam dunia pendidikan di
Indonesia.
“Bapak atau ibu percaya enggak? Yakin enggak? Dari
apa yang Mas Menteri ini sampaikan kepada saya. Saya meyakini beliau bisa
melakukan itu. Kalau itu terjadi, nah itulah yang namanya lompatan,”
tandas presiden. (yb/din/foto: setneg)
