MUARA TEWEH, banuapost.co.id– Alat pengaman, seperti pelabung di kapal atau perahu di Desa Paring Lahung, keberadaannya sangat minim.
Padahal perahu atau kelotok, menjadi sarana utama pelajar
SD, SMP, bahkan TK dan PAUD untuk sampai
menuju ke sekolah melalui jalur sungai.
Selain minimnya ketersediaan alat penyelamatan itu,
pelahu atau kelotok tidak jarang dimuati para pelajar hingga ke bagian atapnya.
Umumnya pelajar dan siswa PAUD dan TK tersebut, setiap
bualannya membayar biaya angkut Ro 100 ribu. Namun minimnya ketersediaan alat
penyelamat ini, seperti luput dari instansi terkait.
Musibah kecelakaan air ini, sebenarnya pernah terjadi 2011
silam. Namun lagi-lagi terkesan belum ada perhatian pemerintahan desa maupun
perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut.
Sementara untuk jarak tempuh antara RT 04 Desa Paring Lahung,
Kecamatan Montallat ini pelajar dan siswa tersebut cukup jauh. Memakan waktu 20
menit perjalanan.
Kondisi dengan pernahnya terjadi kecelakaan air ini,
mengusik satu tokoh masyarakat di sana, Ahmad Efendi dan Herlianor, agar pemerintah
khususnya pemerintah desa dan perusahaan yang ada, dapat berperan aktif dan
memperhatikannya.
“Kami mengusulkan agar kondisi demikian menjadi perhatian
pemerintah desa. Atau sumber dananya bisa berasal dari CSR
perusahaan-perusahaan yang ada di Desa Desa Paring Lahung,” kata Ahmad Efendi,
Kamis (26/3). (arh/foto: ist)