PELAIHARI, banuapost.co.id– “Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih”. Ungkapan ini mungkin pas untuk petani Asam Asam Kampung, Desa Asam Asam, Kecamatan Jorong, Tanah Laut. Pasalnya pada musim tanam kali ini, mengalami kegagalan menikmati hasil panen padinya, akibat Sungai Asam-Asam meluap.
Tumpahan air dari kawasan pegunungan yang meluap di Asam Asam Kampung, meluluhlantakkan padi-padi siap panen yang banyak terdapat di bantaran Sungai Asam Asam. Sedikitnya ada 150 hektare padi siap panen milik petani yang tenggelam.
Bantaran sungai terlihat seperti danau luas dengan kedalaman mulai dari satu meter sampai dua meter. Sehingga banyak padi yang tidak terlihat lagi. Hanya sebagian yang di dataran agak tinggi yang masih terlihat.
Menurut warga dari tiga lokasi pertanian, seperti Pulau Jingah, Pulau Pantung dan Danau Nipah, sedikitnya ada 150 hektare sawah yang padinya sudah mulai menguning.
Mahmud, petani warga RT 5 Asam Asam Kampung, membenarkan sekitar satu hektare sawahnya ikut terendam. Padahal, hanya sempat memanen sekitar 5 borongan atau lima petak berukuran 17 x 17 meter.
“Baru sempat dipanen beberapa petak, banjir tiba-tiba menerjang persawahan kami,” kata Mahmud saat ditemui di lokasi sawahnya yang terendam Minggu (21/6) sore.
Armidah, warga RT 7 Asam Asam Kampung, juga mengaku sempat memanen sekitar 8 kaleng (setara 20 liter atau 10 kilogram). Itu pun gabah masih lengkap dengan mayangnya.
“Masih banyak yang belum sempat di panen, kedahuluan banjir,” ujar wanita berusia sekitar 60 tahun itu, sambal memperlihatkan padinya yang basah dan masih menempel di mayangnya.
Kalau Mahmud dan Armidah sempat memanen sedikit padinya, Beronto dan beberapa petani lain, justru tidak ada yang sempat memanen. Padahal sebagian besar padinya sudah menguning.
“Saya tidak sempat memanen, padahal tinggal beberapa hari lagi siap untuk panen,” kata Beronto, warga RT 7 Asam Asam Kampung.
Pensiunan TNI AD ini menunjukkan lokasi lahan sawahnya yang berada tepat di bantaran Sungai Asam Asam, tidak terlihat sedikit pun padi yang ditanamnya.
“Di lokasi sawah saya ini biasanya ketinggian air sampai 1 meter lebih,” jelas Beronto.
Menurutnya, banjir sepanjang 2020 ini sudah tiga kali menerjang sawah petani di bantaran Sungai Asam Asam.
“Namun kali ini, lumayan parah merendam sawah,” kata petani yang mengaku setiap panen mampu mengumpulkan sekitar 1 ton gabah.
Petani berharap luapan air Sungai Asam Asam dapat segera surut. Sehingga padi yang roboh, masih dapat dipanen. Tapi kalau lebih dari tiga hari, petani sudah pasti gagal panen total. (zkl/foto: zul yunus)