JAKARTA, banuapost.co.id– Seiring dengan peringatan Hari Huatn Internasional (International Day of Forest) yang jatuh setiap 21 Maret, Food and Agriculture Organization (FAO) untuk Indonesia mengajak semua pihak untuk melakukan restorasi hutan.
Ajakan ini sangat beralasan, karena menurut FAO untuk Indonesia ad interim, Richard Trenchard, dunia kehilangan 10 juta hektare hutan setiap tahunnya dan degradasi lahan mempengaruhi hampir 2 milyar hektare.
Padahal hutan berkontribusi penting bagi kesehatan manusia. Karena memberikan manfaat yang baik, seperti tersedianya udara segar, makanan bergizi, air bersih dan ruang rekreasi. Di negara maju, hingga 25 persen dari seluruh obat-obatan adalah nabati yang tumbuh di hutan.
“Kerusakan hutan tidak sehat bagi lingkungan dan manusia, serta meningkatkan emisi karbon dan mengurang keanekaragaman hayati. Harus diingat hampir sepertiga dari penyakit menular yang muncul terkait dengan perubahan tata guna lahan, seperti deforestasi,” jelas Richard dikutip dari laman resmi FAO (www.fao.org)
Sementara pemerintah Indonesia merilis data terbaru yang menunjukkan, laju deforestasi tahun lalu adalah yang terendah dalam 5 tahun terakhir. Pada 2019 Kementerian Lingkungan Hidup dan Hutan (KLHK) telah merehabilitasi sekitar 400 ribu hektare hutan dan saat terjadi pandemi KLHK berencana menambah jumlah bibit yang akan ditanam pada tahun ini.
Proyek penanaman dan restorasi skala kecil dapat berdampak besar. Tidak hanya di daerah pedesaan, penghijauan kota juga dapat menciptaan udara yang lebih bersih dan ruang yang lebih indah serta memiliki manfaat besar bagi kesehatan mental dan fisik penduduknya.
Berinvetasi dalam restorasi ekosistem akan membantu memulihkan kesehatan manusia, komunitas dan lingkungan. Ini menawarkan prospek untuk mengembalikan pohon ke lanskap hutan yang terdegradasi dalam skala besar.
“Sehingga meningkatkan ketahanan ekologi dan produktivitas. Mari kita pulihkan hutan, bangun kembali dengan baik dan raih masa depan yang kita semua inginkan,” pungkasnya. (oie/foto: ist)