JAKARTA, banuapost.co.id– Pemeran utama Nyonya Bos, Nia Ramadhani, dan sang suami yang Dirut TvOne, Anindra Ardiansyah akrab disapa Ardi Bakrie, terancam empat tahun penjara.
Anak dan mantu mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Aburizal Bakrie ini, statusnya sudah jadi tersangka dalam kasus narkoba setelah diamankan di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Rabu (7/7).
Selain barang bukti satu klip sabu seberat 0,78 gram dan bong atau alat isap, tes urine keduanya pun yang dilakukan penyidik Polres Metro Jakarta Pusat hasilnya positif sabu. Polisi membidik keduanya dengan pasal 127 ayat (1) UU RI No 35/ 2009 tentang Narkotika.
Kepada awak media, Kamis (8/7), Kabidhumas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus, membeberkan kronologis penangkapan. Awalnya dari sopir yang digeledah dan ditemukan satu klip sabu.
Dari temuan barang bukti itu pula, polisi bisa masuk ke dalam rumah Nia Ramadhani. Di dalam rumah, polisi mengamankan tuan rumah dan menyita barang bukti berupa bong atau alat isap.
“Setelah dilakukan penggeledahan dari ZN, ditemukan 1 klip narkotika jenis sabu. Kemudian dilakukan interogasi dan mengakui barang tersebut milik RA. Itu pengakuannya (ZN),” kata Kombes Yusri Yunus.
Saat ditangkap di rumahnya, Nia Ramadhani hanya sendirian. Tidak ada Ardi Bakrie. Akan tetapi Ardi datang ke kantor polisi karena ditelepon Nia Ramadhani.
“RA mengakui, suaminya, AAB juga mengisap sabu itu, menggunakan sabu sama-sama. Tapi di TKP, AAB tidak ada. Sehingga ZN dan RA dibawa ke Polres Metro Jakpus. Setelah istrinya, RA, menghubungi suaminya, sore hari atau setelah Isya jam 20:00 WIB, AAB datang ke Polres Metro Pusat untuk menyerahkan diri,” jelas Kombes Yusri Yunus.
Dari hasil pemeriksaan intensif, keduanya mengaku sudah hampir setengah tahun nyabu bareng.
“RA mengakui suaminya, AAB, juga mengisap sabu itu, menggunakan sabu sama-sama. Mereka mengaku mulai pakai sejak 4-5 bulan lalu,” papar Kombes Yusri.
Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie mengaku pakai sabu karena masa pandemi dan tuntutan serta tekanan pekerjaan yang banyak.
“Motif memang (katanya) masa pandemi, karena tekanan kerja yang banyak. Itu alasan-alasan klasik. Tapi akan kami kejar terus,” tegas Kombes Yusri. (yb/foto: ist)