JAKARTA, banuapost.co.id– Jika akhir PPKM, Senin (30/8), kasus turun hingga tercatat 5.436 warga terinfeksi, sebaliknya setelah perpanjangan meski dengan status level 3, Selasa (31/8), melonjak sampai dua kali lipat. Tepatnya 10.534 kasus yang didapat dari hasil pemeriksaan 224.242 spesimen corona.
Akibat tambahan sejumlah itu, Covid-19 di Indonesia totalnya sejak pandemi awal Maret tahun lalu menjadi 4.089.801 kasus. 196.281 pasien di antaranya masih dirawat.
Dilansir dari laman covid19.go.id, di hari yang sama ini pula kesembuhan bertambah 16.781 pasien. Sehingga totalnya menjadi 3.760.497 orang. Sementara yang meninggal dunia, dilaporkan ada 532 pasien, hingga menjadi 133.023 kasus.
Sedang suspek yang menjadi cikal bakal kasus positif, pemerintah masih memantau terhadap sebanyak 248.333 orang tersebar di 510 kabupaten/kota di 34 provinsi.
Sebelumnya, Senin (30/8), tercatat total 4.079.267 kasus positif viruscorona. 3.743.716 pasien diantaranya sembuh dan 132.491 lainnya meninggal dunia.
Berikut sebaran 10.534 kasus baru yang dilaporkan 34 provinsi: Jawa Timur: 1.323, Jawa Barat: 1.127, Sumatera Utara: 792, Jawa Tengah: 635, Kalimantan Timur: 548, DI Yogyakarta: 539, Riau: 437, DKI Jakarta: 399, Sulawesi Selatan: 389, Bali: 376 kasus.
Kemudian: Kalimantan Selatan: 371, Bangka Belitung: 348, Sulawesi Tengah: 340, Aceh: 327, Banten: 265, Nusa Tenggara Timur: 264, Kalimantan Utara: 244, Lampung: 243,Sumatera Barat: 239, Kalimantan Barat: 230, Sulawesi Utara: 175 kasus.
Disusul: Kalimantan Tengah: 148, Nusa Tenggara Barat: 119, Jambi: 113, Papua: 104, Sumatera Selatan: 102, Kepulauan Riau: 78, Bengkulu: 49, Sulawesi Barat: 47, Maluku Utara: 41, Gorontalo: 39, Sulawesi Tenggara: 38, Papua Barat: 38, Maluku: 7 kasus.

Terus jatuhnya korban akibat paparan Covid-19, masyarakat diminta berandil menekan penyebararanya dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Seperti melakukan vaksinasi, memakai masker, selalu mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, membatasi mobilitas dan interaksi.
Imbauan demikian tentunya bukan tanpa alasan. Pasalnya yang menjadi korban tak memandang status maupun usia. Ahli di bidang medis pun banyak yang jadi korban, hingga meninggal dunia. (yb/ilust: ist)