BATULICIN, banuapost.co.id- SMKN 1 Kusan Hulu gelar kegiatan sosialisasi praktik pembuatan Eco-Enzyme bersama Komunitas Eco-Enzyme Nusantara Kabupaten Tanah Bumbu, Sabtu (19/3).
Dalam acara sosialisasi itu, SMKN 1 Kusan Hulu mengundang narasumber yang kompeten di bidangnya dan perwakilan pelajar serta guru dari sekolah-sekolah yang berada di Kecamatan Kusan Hulu.
Koordinator ULWK Kecamatan Kusan Hulu, Subarno mengatakan, acara sosialisasi praktik pembuatan Eco-Enzyme ini bermaksud sebagai sarana silaturahmi memperkenalkan manfaat Eco-Enzyme di kalangan pelajar.
“Alhamdulillah sudah terlaksana sosialisasi pembuatan Eco-Enzyme dari bahan limbah rumah tangga, semoga ke depannya dapat diterapkan secara signifikan dari perwakilan pelajar yang mengikuti kegiatan ini,” ujarnya.
Kepala Desa Wonorejo, Joko Suwarno, yang juga turut berhadir dan membuka acara itu, sangat mendukung acara sosialisasi Eco-Enzyme sebagai sarana pengurangan dampak global warming dari efek rumah kaca.
“Kami berharap sosialisasi ini dapat memberikan kontribusi yang baik bagi semua kalangan dan kedepannya semua bisa membuat Eco-Enzyme demi menyelamatkan bumi yang kita cintai,” tuturnya.
Koordinator Eco-Enzyme Nusantara Kabupaten Tanah Bumbu, Yuliani, juga memberikan pengantar tentang pentingnya Eco-Enzyme dari berbagai sektor terkhusus pertanian.
“Eco-Enzyme sendiri bahanya murni dari alam, tentu sangat baik menjaga alam, karena kita ketahui alam sedang tidak baik-baik saja,” papar Yuliani dalam sambutannya.
Ahmad Surya Fanie yang juga sebagai narasumber sosialisasi praktik pembuatan Eco-Enzyme menjelaskan langkah-langkah pembuatan Eco-Enzyme kepada pelajar dan guru yang berhadir.
“Eco-Enzyme memiliki rumus baku yang menjadi dasar acuan kita agar tidak salah dalam membuatnya yaitu perbandingan 1:3:10, 1 itu gula merah/molase, 3 itu bahan organik, 10 itu air,” jelas Surya.
Selain menjelaskan materi dasar pembuatan Eco-Enzyme, Surya juga menambahkan fungsi dari Eco-Enzyme yang bisa dijadikan pupuk alami pengganti bahan kimia.
“Eco-Enzyme sangat ramah untuk dijadikan pupuk alami dan juga berfungsi mengurangi limbah TPA dari bahan-bahan organik yang mengandung gas metana, tentunya sangat berbahaya bagi bumi,” pungkasnya. (zak/foto: bjack)