PELAIHARI, banuapost.co.id– Pemkab Tanah Laut sejak Senin (16/5) menutup Pasar Hewan Sarang Halang, Pelaihari, untuk mengantisipasi wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak yang diperjualbelikan.
Untuk mengamankan penutupan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tala menempatkan petugas gabungan, baik dari Polres, Dinas Perhubungan serta Satpol PP dan Pemdam Kebakaran.
Menurut Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Tanah Laut, Iwan Persada, penutupan merupakan langkah antisipasi Pemkab Tala terhadap penyebaran PMK.
Sebab sampai sejauh ini di Tala, baru ada laporan di Desa Bumi Jaya, Kecamatan Pelaihari, lima ekor sapi yang terindikasi terpapar PMK. Namun sapi-sapi yang sakit sudah diambil sample nya untuk diuji laboratorium.
“Ada lima ekor sapi yang diduga terjangkit virus dan gejalanya persis dengan ternak yang terjangkit PMK. Saat ini masih menunggu hasil laboraturium,” jelas Iwan Persada saat dikonfirmasi di kawasan Pasar Hewan Sarang Halang, Senin (16/5).
Menyangkut penutupan pasar hewan, menurut Kadisnakkeswan Tala sangat tergantung hasil laboratorium dan laporan-laporan pemilik ternak. Jadi batas waktu penutupan masih belum diketahui.
Sedang Kepala Bidang Kesehatan Hewan, drh Muhammad Taufik, membenarkan saat ini sudah mengambil sample sapi yang terindikasi terpapar PMK dan masih menunggu hasil penelitian laboratorium.
“Kami sudah kirimkan sample hewan ternak yang terindikasi terjangkit PMK,” ujarnya.
Menurut M Taufik, untuk yang di Desa Bumi Jaya gejalanya memang persis dengan hewan ternak yang terjangkit PMK. Sapi mengeluarkan liur yang kental dan ada ruam di sekitar rahang.
“Kalau yang di Desa Bumi Jaya, gejalanya persis sama dengan ternak sapi terkena PMK,” tandasnya.
Menyinggung adanya ternak yang mati mendadak di Desa Mekar Sari, Kecamatan Kintap, menurut M Taufik, akibat terkena penyakit lain, seperti jembrana. Karena untuk sapi yang terkena PMK, biasanya tidak langsung mati. Tapi penularannya sangat cepat.
“Dari apa yang kami lihat di lapangan kemarin (Minggu 15/6), kematian sapi tersebut bukan karena terjangkit virus PMK. Kemungkinan besar akibat terpapar jembrana,” ujarnya.
M Taufik menambahkan, berdasarkan temuan dan informasi peternak mengenai sapi yang mati tersebut, ciri-cirinya lebih kepada terjangkit jemberana. Karena sapi mengeluarkan liur yang kental dan mati mendadak, serta sapi yang mati pun hanya jenis sapi Bali. Sedang PMK menyerang semua jenis sapi atau hewan berkaki belah. (zkl/foto: ist)