PELAIHARI, banuapost.co.id– Hujan deras yang turun di kawasan Tanah Laut dan sekitarnya, membuat jalan di Desa Bukit Mulia, Kecamatan Kintap, yang disulap jadi jalan tambang (hauling), nyaris putus. Bahkan Ahad (31/7), badan jalan kini tinggal sekitar 2 meter akibat longsor tergerus air dari lubang bekas galian tambang.
Jalan desa yang disulap jadi hauling itu menghubungkan Dusun 3 dan Dusun 5 Desa Bukit Mulia. Akibat kondisi jalan yang menyempit, membuat pelajar asal Dusun 5 tidak dapat bersekolah. Sedang dari Dusun 3 dan sekitarnya, pekerja tidak dapat menuju pabrik kelapa sawit.
Kawasan Dusun 5 berada di sekitar PKS milik perusahaan perkebunan PT Smart. Di kawasan ini dihuni sekitar 70 kepala keluarga yang anak-anaknya berekolah di pusat desa. Sementara warga di Dusun 1 sampai Dusun 4, banyak yang bekerja di PKS PT Smart.
Jumat (29/7), kondisi jalan desa yang menghubungkan Dusun 5 dengan dusun-dusun lainnya, masih dapat dilintasi dengan kendaraan roda 4. Namun saat ini, kondisi jalan sudah tidak aman lagi untuk dilalui.
Selain di ruas jalan yang berbatasan dengan Dusun 3, jalan di RT 15 Dusun 5 juga ada yang tergenang dan tidak dapat dilalui dengan kendaraan roda 2. Karena ketinggian air lebih dari 50 sentimeter atau pinggang orang dewasa.
Ali Akbar, salah seorang pengajar di Desa Bukit Mulia, mengaku sudah 5 hari ini anak didiknya dari Dusun 5 tidak dapat mengikuti proses belajar seperti biasa.
“Sudah lima hari peserta didik kami tidak dapat mengikuti pelajaran akibat jalan tergenang air,” kata Ali Akbar yang mengaku baru saja melintas di jalan yang tergenang air luapan bekas lubang tambang batubara itu.
Dia berharap masalah jalan desa ini dapat segera diatasi. Sehingga tidak lagi mengganggu aktivitas masyarakat dan pelajar di kedua sisi jalan.
Pujiarto, warga Desa Bukit Mulia, membenarkan kondisi terakhir, Ahad (31/7) sampai sekitar pukul 14:00 Wita, ruas jalan desa yang tergenang air dari lubang tambang tersisa sekitar dua meter lebih. Sehingga pengendara yang ingin melintas harus ekstra waspada.
“Di lokasi jalan desa yang tergenang di perbatasan Dusun 3 dan Dusun 5 tinggal 2 meter lebih, pengendara harus waspada,” kata Pujiarto yang juga anggota Aliansi Warga Peduli Bukit Mulia.
Menurut Pujiarto, satu titik lagi yang berada dekat dengan pemukiman Dusun 5 juga tergenang air. Saat ini ketinggian mencapai sekitar 50 dan 60 sentimeter di titik paling rendah. Akibatnya, aparat desa yang ingin menyalurkan bantuan terpaksa berjalan kaki melintasi genangan sepanjang sekitar 70 meter itu.
“Aparat desa dan relawan yang ingin menyalurkan bantuan ke Dusun 5 terpaksa jalan kaki,” tandas Pujiarto.
Sebelumnya, Jumat (29/7), kawasan yang terdampak galian tambang penambang tanpa izin (PETI) ini, ditinjau petugas dari Bidang Penataan Kapasitas Lingkungan, Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Tala, Camat Kintap dan Kades Bukit Mulia. (zkl/foto: ist)