BATULICIN, banuapost.co.id – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Tanah Bumbu menyelenggarakan kompetisi film dokumenter yang berhadiah cukup fantastis. Total hadiah mencapai angka 45 juta rupiah disiapkan bagi insan kreatif di bidang audio visual ini.
Kompetisi yang cukup menantang bagi pelaku atau pegiat videografi ini merupakan rangkaian event Festifal Literasi 2023 yang diselanggarakan Dispersib Tanah Bumbu.
Ada tiga tema yang diusung dalam kriteria lomba yakni Tradisi, Budaya dan Kearifan Lokal Tanah Bumbu. Lomba terbuka bagi masyarakat Kalimantan Selatan.
Lomba yang bakal mengangkat konten kekhasan kabupaten berjulukan Bumi Bersujud ini dibuka hingga 18 September mendatang. Bagi peserta yang berminat dapat mencari tautan informasi melalui media sosial Dispersib Tanbu.
Kepala Dispersib Tanah Bumbu, Yulia Rahmadani mengatakan, lomba ini sebagai wujud apresiasi terhadap pegiat literasi digital terutama pada bidang videografi. Kegiatan ini merupakan kick off Festival Literasi yang sentralnya akan dilaksanakan pada Oktober mendatang.
“Ini adalah penanda awal dimulainya event Festival Literasi yang bakal kita laksanakan meriah di bulan Oktober mendatang. Sekaligus ini juga untuk memeriahkan Dirgahayu ke-78 Republik Indonesia,” ujar Yulia, beberapa waktu lalu.
Ia berharap, melalui lomba yang memberikan reward cukup besar ini mampu mengangkat keberagaman nilai tradisi, kebudayaan serta kearifan lokal yang cukup kental mengakar pada masyarakat di kabupaten yang sedang menggaungkan visi Serambi Madinah ini.
Selain output dokumentasi yang dikemas dengan teknik sinematografi yang baik, momentum ini juga sebagai ajang penyaluran minat dan bakat bagi kreator muda Kalimantan Selatan .
“Kompetisi ini merupakan pertama kali dilaksanakan pemerintah daerah melalui dispersip. Kami telah menyediakan total hadiah Rp45 juta untuk tiga pemenang dengan karya terbaik,” katanya.
Sementara itu, salah satu anggota komunitas pegiat gambar (Kopiambar) di Tanah Bumbu, Toni Iskandar mengapresiasi kompetisi tersebut. Menurutnya, lomba ini cukup memacu genarasi keratif untuk menghasilkan karya film dokumenter terbaik.
“Dengan hadiah sebesar itu, kami bersemangat untuk membuat karya dan berpartisipasi dalam lomba,” ujar Toni. (uza/foto: ist)