BANJARBARU, banuapost.co.id–
Kalimantan Selatan sebagai provinsi tertua di Pulau Borneo, diminlai sangat
pantas menjadi Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia.
Penilaian itu dikemukakan Menteri Lingkungan Hidup
(2009-2011) dan Menteri Riset dan Teknologi (2011-2014), Gusti M Hatta, dalam Dialog
Nasional Kalimantan untuk Indonesia yang digagas Kementerian PPN/Bappenas di
sebuah hotel di kawasan Jl A Yani, Banjarbaru, Senin (15/7).
Dialog nasional ini mengangkat tema: “Menuju Ibu Kota
Masa Depan: Smart, Green, Beautiful, dan Sustainable.”
Hatta mengemukakan penilaiannya itu terkait aspek
lingkungan hidup, sebagaimana tema besar pemindahan ibu kota baru seperti yang
diungkapkan pembicara Deputi Bidang Pengembangan Regional Kementerian
PPN/Bappenas, Rudy S Prawiradinata.
“Tema IKN adalah forest city, bukan lagi membangun taman
kota. Tapi didesain sebagai kota hijau. Kita ingin memastikan Kalimantan sebagai
paru-paru dunia. Saat ini baru satu kota di dunia yang mengklaim sebagai forest
city, yaitu London. London awalnya bukan kota hijau, namun kemudian didesain
dan dikembangkan menjadi forest city,” jelas Rudy.
Menurut M Hatta, Kalsel memenuhi kriteria kesiapan aspek
lingkungan yang telah dipaparkan Deputi Rudy, meski ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan.
“Kalau bicara terkait lingkungan hidup, ada kata kunci
yang tidak boleh lepas, yaitu daya dukung dan daya tamping,” tegas M Hatta.
Kalau Jakarta daya dukung dan daya tampungnya rendah, lanjut
M Hatta, di Kalimantan justru sebaliknya. Namun yang masih harus diperhatikan, kebakaran
hutan dan lahan.
‘Karena itu, diperlukan kesungguhan semua pihak serta
kegiatan proaktif dan preventif,” imbuhnya.
Sementara Rektor ULM, Sutarto Hadi, menjelaskan, ULM yang
terpisah di lima lokasi, pada 2025 akan menempati lokasi yang baru, yakni di
IKN.
Hal ini akan mendorong Kalsel untuk dapat menyiapkan SDM
yang berkualitas dalam rangka mendukung pemindahan IKN.
“Human capital menjadi isu sentral dalam pemindahan IKN.
Masyarakat Kalsel adalah masyarakat yang memiliki daya tahan yang tinggi,” kata
Sutarto.
Karena itu, sambung Sutarto, ULM bisa menyiapkan sumber
daya itu. Dari segi akademis dan intelektual, cukup layak men-support IKN ini.
“Program afirmasi juga dikembangkan untuk mendorong
peningkatan pendidikan, khususnya bagi Dayak Meratus,” ucap Sutarto. (emy/foto: ist)
