MUARA TEWEH, banuapost.co.id–
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak bagi kesehatan
masyarakat, khususnya di Kabupaten Barito Utara (Barut). Penyakit yang sering
timbul, Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).
Penurunan kualitas udara akibat asap, juga berdampak terhadap
bidang trasportasi, yaitu dapat menganggu jarak pandang dalam dunia
penerbangan.
Menurut Bupati Barito Utara, H Nadalsyah, berdasarkan
prediksi BMKG, puncak kemarau akan terjadi hingga September mendatang dengan
kondisi lebih kering dari 2018.
“Sehingga diperlukan kewaspadaan lebih tinggi dari
semua pihak, guna mengantisipasi hal tersebut,” terang Bupati yang akrab
disapa H Koyem, di Muara Teweh, kemarin.
Dalam pencegahan karhutla, lanjut H Koyem, masyarakat
dilarang membuka hutan dan lahan dengan cara membakar.
“Prioritas kegiatan pencegahan melalui patroli terpadu
dan deteksi dini hotspot. Bila muncul hotspot, segara padamkan bila memang ada
api,” imbuhnya.
Kebakaran hutan dan lahan, sambung bupati, merupakan
bencana yang terjadi hampir setiap tahun di Indonesia, khususnya di wilayah
Pulau Sumatera dan Kalimantan, termasuk juga di wilayah Kabupaten Barito Utara.
“Jadi jangan heran, kejadian ini juga menjadi isu
nasional,” pungkasnya.(arh/foto:
ist)
