BANJARBARU, banuapost.co.id–
Menjadi guru mungkin menjadi salah satu cita-cita banyak orang. Namun bagaimana
dengan guru sekolah luar biasa (SLB)? ,
Dengan tingginya kebutuhan masyarakat menyekolahkan anak
berkebutuhan khusus di SLB, mendorong peningkatan kebutuhan akan guru
pendidikan khusus.
Selain menguasai kompetensi dasar, guru SLB harus
memiliki kesabaran dan jiwa yang besar. Demikian diutarakan Kepala SLB
Banjarbaru , Elik Supriyati.
“Guru SLB mendidik anak berkebutuhan khusus, di
antaranya tunanetra, tunawicara, tunagrahita, tunadaksa, dan tunalaras, ”
tuturnya.
Menurut Elik, guru SLB bukan sekadar menyampaikan materi
di kelas, melainkan juga membimbing dan mengarahkan siswa.
“Di sekolah reguler, guru menggunakan sistem
klasikal. Sedang di SLB, menerapkan pendekatan individu. Karena kemampuan siswa
berbeda,” ungkap Elik saat ditemui di ruangan kerjanya, Jumat (11/10)
pagi.
Guru SLB dituntut memiliki komitmen tinggi. Bahkan bahasa
yang digunakan, yakni verbal, isyarat, dan kombinasi keduanya.
Selain materi pelajaran, guru SLB juga mengajari
keterampilan bagi siswa SMP dan SMA.
“Tujuannya, mengasah keterampilan dan kemandirian siswa
setelah lulus. Sementara keterampilan yang diajarkan, di antaranya menjahit,
tataboga, seni tari, desain grafis, membuat sovenir dan tata rias kecantikan,”
ujar Elik. (riz/foto: rizal)
