JAKARTA, banuapost.co.id– Presiden Joko Widodo mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan di tengah masyarakat. Kedua hal tersebut, merupakan bagian tak terpisahkan dari pembangunan dan pengembangan ekonomi berkelanjutan.
Menurut Kepala Negara, meningkatnya literasi dan inklusi
keuangan, membuat masyarakat akan lebih memiliki pengetahuan dan keterampilan
dalam mengelola keuangan mereka serta dapat dengan mudah mendapatkan akses
maupun layanan terhadap layanan financial, seperti tabungan hingga kredit
usaha.
“Ini penting sekali. Karena dari situlah ekonomi
keluarga serta ekonomi usaha mikro dan kecil kita akan bisa naik ke kelas yang
lebih atas lagi,” ujar presiden selepas memberikan arahan dalam Rapat
Koordinasi Nasional (Rakornas) Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di
Hotel Mulia, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (10/12).
Saat memberikan arahan, presiden mengapresiasi
pembentukan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) oleh Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) yang bekerjasama dengan pemerintah serta seluruh pemangku
kepentingan daerah, sejak beberapa tahun terakhir sebagai upaya untuk
meningkatkan inklusi keuangan di daerah-daerah.
“Saya sangat menghargai OJK yang telah membentuk tim
percepatan akses keuangan daerah ini. Nantinya (diharapkan) betul-betul bisa
menghasilkan sebuah hal yang konkret sehingga tingkat literasi keuangan dan
inklusi keuangan kita bisa naik lebih cepat dan tinggi lagi,” kata presiden.
Presiden mengatakan, pemerintah ingin mengajak seluruh
daerah agar bisa mendorong masyarakat untuk bisa mengakses layanan keuangan
atau perbankan, baik itu berupa tabungan maupun akses kepada layanan kredit
usaha.
Sebagai contoh, pemerintah memiliki program-program
pemberdayaan dan peningkatan serta permodalan bagi usaha mikro, kecil, dan
menengah (UMKM) yang tengah berjalan, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), Bank
Wakaf Mikro di lingkungan pesantren, dan Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera
(Mekaar).
“Di usaha yang mikro dan kecil, kita memiliki PNM
Mekaar yang sekarang ini jumlahnya sudah 5,9 juta nasabah. Di PNM Mekaar bisa
mengambil kredit pertama Rp2 juta hingga bisa naik ke Rp10 juta,”
tuturnya.
Sementara di program KUR, pemerintah bahkan akan
menaikkan total plafon anggaran hingga mencapai Rp190 triliun pada 2020. Jumlah
tersebut mengalami kenaikan dari tahun ini yang berada di angka Rp140 triliun.
“KUR itu nanti di 2020 ini target kita Rp190 triliun
harus keluar dari perbankan kita untuk usaha-usaha kecil dan usaha-usaha mikro.
Target yang saya berikan di 2024 Rp325 triliun harus keluar untuk usaha-usaha
mikro dan usaha kecil,” ucap presiden.
Dari semua program yang tengah berjalan tersebut, baik
itu KUR, PNM Mekaar, hingga Bank Wakaf Mikro, presiden mengungkap, hasil dan
respons yang didapatkan dari para nasabah amat menggembirakan. Bahkan,
berdasarkan data yang diperoleh, tingkat kredit macet dari program tersebut
juga tergolong kecil.
“Artinya yang kecil-kecil ini justru memiliki
kedisiplinan, kejujuran, dan memiliki iktikad yang baik untuk mengembalikan.
Ini kalau kita tidak memberikan sebuah ruang yang besar untuk bisa kita tambah
plafonnya, ya kebangetan kita,” ujarnya.
Untuk itu, Kepala Negara menginginkan daerah untuk turut
serta mendorong literasi dan inklusi keuangan di masing-masing wilayahnya. Pemerintah
daerah disebutnya dapat membuat kelompok-kelompok usaha untuk kemudian
mencarikan akses kepada bantuan permodalan seperti KUR.
“Ini tugas daerah, karena banyak masyarakat kita itu
enggak tahu bagaimana cara mengakses ke bank. KUR pun yang sampai Rp50 juta itu
kalau dalam bentuk kelompok, tidak memakai agunan. Kalau satu-satu pasti
diminta agunan, tapi kalau dalam bentuk kelompok tidak,” ucapnya. (yb/din/foto: rusman)
