MARABAHAN, banuapost.co.id– Tari Mahelat Lebo ikut memeriahkan peringatan Hari Jadi ke-60 Kabupaten Barito Kuala (Batola) yang digelar di halaman Kantor Bupati setempat, Rabu (8/1).
Mahelat Lebo yang
dalam bahasa Indonesia memiliki arti membentengi kampung, merupakan sebuah tradisi
adat masyarakat Suku Dayak Bakumpai, Batola, dalam menjaga lebo atau kampung halaman
dari gangguan-gangguan yang mengancam.
“Mahelat
Lebo itu artinya menjaga kampung,” jelas Ketua Seksi Acara Hari Jadi Batola,
Hery Sasmita.
Sembilan
penari, terdiri dari tiga lelaki dan enam perempuan, terlihat luwes memegang
tombak dan tameng. Bahkan tanpa ragu, kesemuanya memainkan semburan api sebagai
aksi untuk melindungi kampung dari berbagai gangguan.
“Intinya, tarian ini menjadi simbol perjuangan Suku Dayak Bakumpai
untuk kemakmuran bersama,” ucap Hery.
Tari Mahelat Lebo itu sendiri, lanjut Hery, dipersembahkan Sanggar Permata Ije Jela yang dibina Bupati
Batola, Hj Noormiliyani. Tarian itu sekaligus menjadi pembuka acara puncak hari
jadi yang juga dihadiri Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor.
Sederhana
namun meriah, puncak peringatan HUT ke-60 Batola ini, ditutup dengan penampilan
Tari Talabet
yang dipersembahkan Sanggar Permata Ije Jela.
Sementara Talabet yang
berarti perisai dalam bahasa Bakumpai, merupakan tarian yang mendeskripsikan
keperkasaan Datu Pujung sebagai perisai atau pelindung kerajaan, ketika melawan
kedatangan kapal Inggris yang berusaha menjajah.
Datu Pujung dikenal
sebagai orang sakti dan tokoh masyarakat, khususnya di wilayah Amuntai,
Kalimantan Selatan.
“Khusus untuk HUT ke-60 Batola 2020 ini, mengusung tema: “Mehas
Bagawi Handeyah Biti Batola Setara”, yang artinya, Mari Bersama-sama Giat Berkerja
Keras untuk Batola Setara,” ujar Bupati Batola, Hj Noormiliyani.
Disinggung soal perekonomian Batola, menurut bupati
wanita pertama di Kalsel ini, tingkat pertumbuhannya lebih bagus dari
Kalimantan Selatan.
“Karena sekarang, Barito Kuala menjadi salah satu
daerah penghasil lumbung pangan terbesar di Indonesia. Kondisi ini akan terus
kami tingkatkan ke depannya,” pungkas putri Gubernur Kalsel ke-3, Aberani
Sulaiman (1963 – 1968). (oie/foto: olive)